Si Penyakitan

“Hei, anak penyakitan! Jangan dekat-dekat sama kita deh! Nanti ketularan lagi penyakitnya!” Begitulah ejekan-ejekan yang sering diterima Fina dari teman-temannya, baik di lingkungan masyarakat sampai ke lingkungan sekolah.Teman-teman Fina selalu mencemooh Fina, seorang anak perempuan yang kini tengah duduk di bangku SMA. Fina didiagnosis oleh dokter bahwa ia mengidap penyakit kanker otak. Sebenarnya sudah lama Fina menderita penyakit ini, hanya saja penyakit ini baru diketahui oleh Fina dan kedua orang tuanya setelah penyakit ini akhirnya mencapai stadium 2+. Fina, yang menjadi kesayangan kedua orang tuanya, karena dia bukan hanya anak yang sopan, tetapi ia juga sangat pintar sekolah, menjadi anak tunggal di dalam keluarganya. Ia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki saudara seperti teman-temannya yang lain. Tetapi, yang membuat ia selama ini dikenal sebagai anak yang cerdas sehingga mendapat beasiswa si sebuah SMA unggulan, adalah tidak lepas dari dukungan dan motivasi kedua orang tuanya. Cita-cita terbesar dalam hidupnya adalah ia harus bisa membahagiakan kedua orang tuanya yang dianggap orang yang paling berharga dan berjaasa untuknya. Fina tidak putus asa sewaktu ia mengetahui bahwa dirinya divonis mengidap penyakti kanker otak karena ia percaya bahwa ini hanyalah ujian dan cobaan dari Sang Pencipta. Fina mencoba untuk tetap sabar, tabah, dan semangat dalam menjalani hidupnya karena ia tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya dengan keputusasaannya. Kedua orang tuanya selalu memotivasi putri mereka satu-satunya. Kedua orang tuanya selalu berkata kepadanya bahwa di dalam hidup ini masih ada kesempatan untuk meraih cita-cita, bagaimananpun kondisi kita asal kita mau berusaha dan mau melakukannya. Perkataan itu selalu dicamkan oleh Fina. Dia memikirkan bagaimana jasa kedua orang tuanya terhadapnya selama ini. Ibu yang telah melahirkannya ke dunia dan merawatnya dengan baik, juga ayah yang bersusah payah membanting tulang untuk kehidupan mereka sehari-hari.

Sebagai seorang anak yang bisa dibilang “berpenyakitan”, tentu saja Fina terlihat kalah sehat dibandingkan anak-anak seusianya. Ia tidak bisa bermain seaktif teman-temannya yang lain. Tetapi, ia tidak putus asa dan bersedih, ia mengisi hari-harinya dengan menulis, karena itulah kegiatan yang bisa membuatnya tidak bersedih lagi sewaktu mengingat tentang kisah hidupnya. Ternyata, kegiatannya sehari-hari yang dianggapnya sebagai sebuah “keisengan” membawakan sebuah hasil. Hasi tulisan-tulisannya pun dimuat di berbagai media masa, mulai dari koran, majalah, sampai ke internet.Tidak ada yang tahu, bahkan kedua orang tuanya sekalipun, bahwa dibalik kebanggaan dan kekaguman setiap orang atas dirinya, tersimpan rasa sakit yang amat sangat. Penyakitnya itu sering kambuh, tanpa siapapun yang tahu. Ia juga pernah merasa, bahwa kesempatan hidup untuknya sudah semakin kecil. Waktunya untuk menghadap Sang Pencipta sudah semakin dekat. Tetapi, semangatnya tidak pernah pudar. Ia tetap melanjutkan kegiatannya sehari-hari, menulis, dan akhirnya ia berhasil menuliskan sebuah buku motivasi yang diberi judul “Berjuang Tanpa Batas”. Buku ini pun beredar dimana-mana yang menjadi “Best Seller”. Judul dari buku itu, sangat cocok untuk dirinya, yang memiliki semangat hidup yang sangat kuat dan berjuang tiada henti. Detik demi detik yang dilaluinya dalam hidup, baginya adalah sebuah anugerah yang sangat indah yang diberikan oleh Tuhan. Ia mensyukuri segala sesuatu, apapun yang telah terjadi kepada dirinya dan mensyukuri segala sesuatu yang telah diberikan, mulai dari terlahir ke dunia, memiliki kedua orang tua yang sangat sayang padanya, bisa menjadi seorang penulis terkenal, sekalipun ia harus menjalani sisa hidupnya dengan penyakit yang dideritanya. Fina bisa menjadi contoh dan teladan dalam hidup setiap orang, karena ia memiliki kesabaran, keuletan, semangat, dan perjuangan yuang luar biasa, sehingga sewaktu ia pergi, ia bisa pergi dengan membawa sejuta kenangan yang paling indah dalam hidupnya.

Dalam cerita ini, kita bisa menyimpulkan dan mengambil pelajaran bahwa tidak peduli siapapun kita, dimanapun kita berada, apapun yang kita punya, kita bisa meraih cita-cita kita. Apakah kita, seorang yang terlahir dengan tubuh yang sehat walafiat harus kalah berjuang dengan Fina, seorang yang menderita kanker otak? Pikirkan dan renungkan itu baik-baik.

Mulai dari sekarang, berjuang dan bersemangatlah! Tanamkan pada diri Anda masing-masing bahwa cita-cita Anda akan tercapai jika Anda memiliki tekad yang kuat dan semangat juang yang tiada henti. Tapi, sekedar bertekad saja tidak cukup, karena yang paling penting adalah “ACTION”!!!

Janganlah berkhayal bisa menjadi penulis jika Anda tidak pernah menulis!

About Fenny Wongso

Keep in touch and you'll know more.. my twitter / line / Instagram : FennyWongso Feel free to share and Leave your comments here :)

Posted on March 19, 2012, in Random. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: