Daily Archives: March 21, 2012

Semakin tinggi gunung didaki, semakin parah jatuhnya

Alkisah, di sebuah desa tinggallah seorang lelaki yang yang sudah berkeluarga dan dikaruniai 3 orang anak. Kehidupan mereka sangatlah sederhana, pendapatan sang suami pun hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anak mereka. Pekerjaan sang suami adalah menjadi seorang petani. Sesungguhnya lelaki ini tidak begitu suka dengan pekerjaannya. Karena selain harus berjemur matahari, ia juga harus bekerja dengan susah payah, tetapi mendapat upah yang tidak seberapa. Tetapi lelaki ini tidak punya pilihan lain sehingga ia harus mengorbankan kulitnya di sawah untuk bercocok tanam padi.

Suatu hari, lelaki ini sedang berjalan-jalan dan menemukan sebuah kertas di tengah jalan. Ternyata setelah dilihat-lihat, di dalam kertas itu tertera sejumlah nominal yang cukup besar, yaitu Rp.500.000.000. Lelaki ini pun terkejut dan tidak tahu harus bersikap seperti apa. Seketika saja ia pun merasa sangat bahagia karena merasa telah mendapat sebuah keberuntungan yang amat sangat luar biasa. Sebuah mimpi menjadi orang kaya akhirnya bisa menjadi kenyataan. Tetapi ia berkata dalam hati : “Mengapa di tengah jalan begini ada cek yang berisi jumlah besar? Mungkin ini terjatuh dari tangan seorang kaya raya. Tetapi tak apalah, orang itu sudah kaya, tidak ada salahnya kalau saya mengambilnya.” Ia pun segera pulang untuk memberitahukan kabar baik ini kepada keluarganya.

Sepulang ke rumah, ia pun memberitahukan kabar tersebut kepada istrinya. Istrinya pun merasa bahagia. Read the rest of this entry

Advertisements

Nikmatilah sekarang

“Aduh, capek banget! Apa yah yang harus aku lakukan lagi untuk mendapatkan uang yang banyak?” ucap seorang pria lajang yang berumur 25 tahun itu. William namanya. Sejak kecil, ia diasuh oleh bibinya karena kedua orang tuanya pergi bekerja di luar negeri. Orang tuanya hanya pulang ke Indonesia sekali 3 tahun, itupun kalau ada cuti kerja/ hari libur internasional.

Walaupun ia jarang berjumpa dengan kedua orang tuanya, tetapi ia mampu menjalani hari-harinya dengan sukacita. Setelah selesai menamatkan S1 nya, dia ingin mencari pekerjaan yang cocok untuknya. Prestasi yang diraihnya di bangku kuliah cukup memuaskan, sehingga tidak sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan. Dia merasa sudah dewasa dan tidak mau menggantungkan hidupnya lagi pada kedua orang tuanya ataupun dengan bibinya.

Akhirnya, setelah mengirimkan beberapa surat lamaran ke perusahaan- perusahaan ternama, dia pun dipanggil untuk interview dan melakukan beberapa tes. Dia merasa sangat beruntung karena akhirnya diterima untuk bekerja di sebuah perusahaan asing yang ternama di kota tsb. Karena pegawai baru, jabatannya diperusahaan juga idak begitu tinggi. Namun demikian, prestasi kerjanya cukup memuaskan. Itu membuat atasannya bangga mempunyai pegawai seperti William.

Sangkin rajinnya, William sering lupa beristirahat. Dia terlalu fokus dengan kerjanya, terkadang lupa makan dan lupa ber-refreshing sejenak. Tetapi, menurutnya, semua itu tidaklah begitu penting. Yang penting baginy Read the rest of this entry

Maaf

“Doni!! Apa yang sedang kamu lakukan? Oh my God!! Kamu memecahkan piring kesayangan Mama?? Kamu tahu tidak, kalau piring itu satu-satunya peninggalan dari nenek kamu. Itu piring kesayangan Mama yang sudah Mama simpan selama 5 tahun, dan kamu memecahkannya begitu saja?!” teriak seorang ibu yang mendapati piring kesayanagannya  yang telah dipecahkan oleh anak sulungnya yang baru berumur 8 tahun itu.

“Maaf, Ma. Aku tidak sengaja.” ujar Doni dengan muka bersalah.

“Semudah itu kamu bilang maaf? Makanya kalau jalan itu hati-hati donk, kamu itu emang ceroboh banget ya! Suruh lakuin apa aja gak pernah beres! Suruh belajar, malas. Suruh jaga adik, malas. Kamu itu maunya apa sih? Tiap har kerjanya cuma main piano aja, bikin pusing kepala Mama aja! Semalam kamu mecahin gelas, sekarang piring kesayangan Mama, besok apa lagi yang mau kamu pecahin?!” teriak Mama Doni dengan nada emosi.

Doni diam. Dia tidak melawan atau bahkan berbicara satu kata pun kepada  mamanya. Dia masuk ke dalam kamar, duduk diatas sebuah kursi rotan. Di mejanya hanya ada selembar kertas dan sebuah bolpoin hitam dan merah.

“Aku kan sudah minta maaf sama Mama,tapi kayaknya Mama gak bilang mau maafin aku ya? Aku tahu kalau aku salah, tapi aku kan gak sengaja. Lagian aku juga udah minta maaf. Tapi mama malah memarahi aku dan mengungkit-ungkit kesalahanku. Apa kata “maaf” gak cukup ya untuk Mama? Hngg…..” Doni berpikir sambil menghela nafas panjang.

Selama 1 jam dia duduk termenung, ia pun melanjutkan aktivitasnya. Saat itu y Read the rest of this entry

Arti Kasih Sayang

Dikisahkan, di sebuah desa tinggallah seorang janda dengan kedua anaknya. Suaminya sudah meninggal 2 tahun yang lalu akibat kecelakaan mobil. Peristiwa itu tentu saja membuat keluarga mereka sedih dan terpukul. Tapi apa boleh buat, itu semua sudah menjadi kehendak  Yang Maha Kuasa.

Keluarga mereka termasuk keluarga yang berkecukupan, sehingga mereka tidak perlu khawatir untuk tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka. Si sulung sebentar lagi juga akan menyelesaikan pendidikannya di SMA dan akan berencana untuk  melanjutkan studinya keluar negeri. Si sulung juga tergolong anak yang pintar, selalu mendapat ranking di sekolahnya. Berbeda dengan si bungsu, yang lebih suka bermain-main dan tidak serius belajar. Mereka hanya terpaut 1 tahun saja. Ibunya tentu saja lebih menyukai si sulung. Tetapi, kasih sayang yang dia berikan kepada kedua putranya itu adalah sama saja.

Semenjak kepergian ayah mereka, ibu mereka lebih suka melamun, bengong sendirian. Melihat itu, kedua putranya tentu sedih. Terlebih lagi si bungsu yang sangat manja dengan ibunya itu. Tetapi mereka berdua memutuskan untuk membiarkannya saja karena takut menambah beban ibunya.

Tidak terasa si sulung sudah tamat dari bangku SMA. Rencananya selanjutnya adalah melanjutkan kuliah ke luar negeri. Ia pun segera memberitahukan ibu dan adiknya tentang berita itu. “Bu, boleh ya saya kuliah ke luar negeri? Kelak saya akan pulang dengan gelar sarjana dan akan membawa pulang uang yang banyak untuk ibu. Saya berjanji .” kata si sulung kepada ibunya. Sambil berlinang air mata ibunya pun menjawabnya, “Pergilah Nak, hati-hati ya.”

Sehari sebelum kepergian kakaknya ke negri Paman Sam itu, si bungsu pun berkata kepada kakaknya, “Kak, apakah kakak yakin akan berangkat ke luar negeri besok? Kakak pikirkan dulu baik-baik keputusan kakak. Read the rest of this entry