Maaf

“Doni!! Apa yang sedang kamu lakukan? Oh my God!! Kamu memecahkan piring kesayangan Mama?? Kamu tahu tidak, kalau piring itu satu-satunya peninggalan dari nenek kamu. Itu piring kesayangan Mama yang sudah Mama simpan selama 5 tahun, dan kamu memecahkannya begitu saja?!” teriak seorang ibu yang mendapati piring kesayanagannya  yang telah dipecahkan oleh anak sulungnya yang baru berumur 8 tahun itu.

“Maaf, Ma. Aku tidak sengaja.” ujar Doni dengan muka bersalah.

“Semudah itu kamu bilang maaf? Makanya kalau jalan itu hati-hati donk, kamu itu emang ceroboh banget ya! Suruh lakuin apa aja gak pernah beres! Suruh belajar, malas. Suruh jaga adik, malas. Kamu itu maunya apa sih? Tiap har kerjanya cuma main piano aja, bikin pusing kepala Mama aja! Semalam kamu mecahin gelas, sekarang piring kesayangan Mama, besok apa lagi yang mau kamu pecahin?!” teriak Mama Doni dengan nada emosi.

Doni diam. Dia tidak melawan atau bahkan berbicara satu kata pun kepada  mamanya. Dia masuk ke dalam kamar, duduk diatas sebuah kursi rotan. Di mejanya hanya ada selembar kertas dan sebuah bolpoin hitam dan merah.

“Aku kan sudah minta maaf sama Mama,tapi kayaknya Mama gak bilang mau maafin aku ya? Aku tahu kalau aku salah, tapi aku kan gak sengaja. Lagian aku juga udah minta maaf. Tapi mama malah memarahi aku dan mengungkit-ungkit kesalahanku. Apa kata “maaf” gak cukup ya untuk Mama? Hngg…..” Doni berpikir sambil menghela nafas panjang.

Selama 1 jam dia duduk termenung, ia pun melanjutkan aktivitasnya. Saat itu yang harus dilakukannya adalah les piano. Walaupun dia bisa dibilang tdak begitu pintar dalam pelajaran sekolah, tetapi ia sangat suka bermain piano. Tetapi sayang, mamanya tida mendukung dan tidak suka dia bermain piano. Ntah kenapa, banyak sekali hal yang ia suka tetapi ditentang oleh mamanya.

Esoknya….

“Bangun!! Dasar pemalas! Bukannya bangun pagi-pagi, bantuin Mama, apa kek, malah tidur!” teriak Mama Doni yang “super” galak sambil memasuki kamar Doni.

Tetapi apa yang terjadi? Doni tidak ada di kamarnya. Yang ditutup dengan selimutnya hanyalah sebuah guling. Lalu dimana Doni?? Mamanya masih mencari-carinya di sekeliling kamarnya. Ups, mamanya menemukan sebuah kertas. Disitu digambar sebuah lukisan…

                                                                              

Mamanya sangat terharu. Air mata pun mulai membasahi pipinya.

          “Ternyata Doni sangat menyayangiku. Ia sangat mencintaiku. Dia udah coba minta maaf sama aku karena telah memecahkan piringku, tapi aku malah memarahinya. Kasihan dia.. Apa yang ia lakukan selalu salah di mataku. Ya Tuhan, aku baru sadar bahwa selama ini aku telah salah menilai Doni. Aku berjanji akan menyayanginya dengan sepenuh hatiku. Dia anakku yang baik..”

          Seketika mamanya pun ingat akan anaknya itu. Dimana Doni? Akhirnya, setelah dicari-cari, Doni ada di dapur!! Tapi, apa yang sedang ia lakukan? Ia menyiapkan sarapan untuk mamanya tercinta. Sambil memegang lukisan yang digambar Doni, mamanya pun memeluknya dengan erat. Sambil menahan air matanya, mamanya berkata, “Maaf ya Nak, mama sudah marah-marah sama kamu. Mama sudah salah menilai kamu. Maafin Mama ya. Dan Mama juga berterima kasih sama kamu karena kamu sudah mengajarkan Mama tentang arti “kasih” yang sebenarnya.”

“Tidak apa-apa Ma, Doni senang karena Mama udah mau maafin Doni. Doni juga minta maaf ya Ma atas semua kesalahan Doni selama ini. Dan Doni sangat berterima kasih atas semua kebaikan Mama. Mama adalah orang terbaik di dalam hidup Doni.”

Pembaca yang berbahagia,

Suatu saat kita sebagai manusia, pastilah pernah melakukan kesalahan-kesalahan, kekhilafan-kekhilafan. Karena memang itulah hakekat manusia. Dan bisa dipastikan, suatu saat kita juga melakukan kesalahan terhadap anak kita sendiri. Tapi sepanjang pengetahuan saya, rupanya kata maaf dari seorang orang tua kepada anaknya adalah sesuatu yang tidak begitu dianggap serius di peri kehidupan kita.  

Sesekali cobalah kita merenung, dari sekian kali kita melakukan suatu kesalahan kepada anak kita, kemudian kita menyadari kesalahan itu, tanpa menunggu lebih lama lagi, berapa kali, kemudian kita datang kepada si anak, menatap matanya, dan dengan kepala tegak berkata maaf kepada sang anak? 

Dan kalau hal ini bisa diperluas lagi, kasusnya bisa jadi tidak hanya antara seorang orang tua dengan anaknya, mungkin bisa terjadi seorang karyawan senior kepada karyawan yunior, seorang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Seseorang yang berpangkat lebih tinggi kepada anak buahnya. Adakah kita bisa dengan dada lapang berkata maaf kepada anak, si yunior, yang lebih muda, bawahan, suatu saat bila kita melakukan kesalahan? Mungkinkah kata maaf kepada mereka menurunkan wibawa kita..? Kenapa selalu kita harus menunggu momen lebaran untuk meminta maaf..? 

Kata Covey, seorang proaktif adalah orang yang mampu berkehendak bebas. Tentunya bisa dijabarkan –juga- mampu untuk berkehendak bebas terhadap ke-tinggi hati-an orang itu sendiri bila saja diminta untuk proaktif berkata maaf saat melakukan kesalahan terhadap anak, sang bawahan, atau orang yang lebih muda.

Jadi, jangan takut untuk minta maaf sama siapapun kalau kita memang benar-benar bersalah, sekalipun itu sama pengemis..

🙂

About Fenny Wongso

Keep in touch and you'll know more.. my twitter / line / Instagram : FennyWongso Feel free to share and Leave your comments here :)

Posted on March 21, 2012, in Random. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: