Bermodalkan Rp.5.000

Sebelum saya ceritakan cerita ini,perlu diketahui kalau kisah ini kisah nyata lho.. Hehe…

30 tahun silam, di sebuah desa kecil di kota Jakarta, lahirlah seorang bayi laki-laki dari pasangan suami istri Nini dan Toni. Bayi itu kemudian diberi nama Rudi. Kehidupan keluarga mereka sangat pas-pasan. Sang suami, yang hanya bekerja sebagai seorang buruh, harus menghidupi sang istri dan anak perempuan mereka yang baru berumur 2 tahun. Ditambah lagi tanggungan mereka dengan seorang anak laki-laki mereka yang baru lahir itu, tentu beban hidup mereka semakin berat. Sang istri juga membantu suaminya dengan menyalurkan jasanya mencuci baju-baju tetangga. Itu saja sudah sangat pas-pasan bagi mereka, terkadang masih tidak cukup karena banyak kebutuhan mendesak, seperti misalnya anak mereka jatuh sakit dan harus berobat ke dokter. Untuk membeli susu dan kebutuhan bayi mereka yang batu lahir itu saja mereka terpaksa harus berhutang kemana-mana. Tetapi, itu sama sekali tidak membuat mereka menyalahkan bayi mereka. Bagi mereka, setiap ciptaan Tuhan yang diberikan untuk mereka merupakan anugrah dan hadiah terbesar dalam hidup mereka.

Tidak terasa hari demi hari pun telah mereka lewati. Mereka bertambah tua dan tentu saja kedua anak mereka juga bertambah besar. Anak pertama mereka, Rini, yang seharusnya sudah pantas menimba ilmu di perguruan dasar, tidak dapat bersekolah karena orang tuanya tidak mempunyai uang. Untuk makan dan kebutuhan sehari-hari saja mereka sudah kesusahan, apalagi untuk kebutuhan lainnya. Sehingga ibunya hanya mengajarkan dia dan adiknya, Rudi untuk belajar di rumah. Ibunya selalu berkata kepada kedua buah hatinya, “Nak, walaupun kita miskin, tetapi kita tidak boleh rendah diri. Kita harus selalu bersemangat dan tidak boleh putus asa.” Dan kenyataannya memang begitu. Walaupun mereka hidup pas-pasan, tetapi mereka tidak pernah menyerah begitu saja dalam melakukan hal apapun. Mereka selalu menghadapi samua ujian dan cobaan yang mereka hadapi dengan sabar dan hati sukacita. Kedua anak mereka itu pun tumbuh dengan sikap yang sangat baik.

Setahun kemudian, tepatnya pada bulan Mei tahun 1985, setelah Rini berumur 8 tahun dan Rudi yang baru berumur 6 tahun, datang lagi sebuah musibah.. ayah mereka sakit keras. Hal itu membuat mereka sekeluarga panik. Mereka tidak tahu harus berhutang  kemana lagi untuk mengobati penyakit ayahnya yang semakin parah itu. Tidak lama kemudian, hal yang sangat tidak dharapkan oleh mereka semua akhirnya terjadi. Ayah dipanggil oleh untuk menghadap Yang Maha Kuasa. Mereka sedih, terpukul, semua perasaan bercampur aduk menjadi satu.

Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun pun berlalu. Tidak terasa kedua anak Bu Nini sudah mnginjak usia remaja. Rini sudah berumur 19 tahun dan Rudi sudah berumur 17 tahun. Rini dan Rudi selalu menjaga, merawat, dan menghbur ibu mereka agar tidak terlarut dalam kesedihan lagi. Rini juga membantu ibunya untuk bekerja. Rudi, yang merupaka satu-satunya anak laki-laki dalan keluarganya, setiap hari selalu mencoba untuk mencari pekerjaan di desa tempat tinggalnya. Tetapi zaman sekarang mencari pekerjaan sangatlah susah, apalagi Rudi tidak memilki ijazah. Ia pun berkata kepada ibunya, “Bu, bagaimana kalau saya mencoba mencari pekerjaan ke kota saja?” “Terserah kamu Nak, yang penting kamu harus bisa pandai-pandai menjaga diri,” ibunya menjawab dengan pelan. Mendengar jawaban ibunya, si anak pun mengangguk-anggukan kepala.

Besoknya, pagi-pagi sekali, Rudi sudah berangkat ke kota. Tentu saja terlebih dahulu ia berpamitan dengan ibu dan kakaknya. Yang lebih anehnya lagi, ibunya hanya memberikannya uang Rp.5.000. Ibunya berkata, “Nak, ibu hanya punya sisa uang segini, mudah-mudahan cukup untuk kamu. Semoga uang ini dapat berguna untuk kamu.”Tentu saja Rudi menerimanya dengan senang hati dan tidak lupa juga mengucapkan terima kasih. Akhirnya, Rudi pun berangkat ke kota degan bermodalkan uang Rp.5.000 dan pakaian yang masih melekat di tubuhnya.

Sesampainya di kota, ia terus mencoba untuk mencari pekerjaan. Tetapi tidak ada satu pun yang mau menerimanya. Setelah berjalan setengah hari, akhirnya sampailah ia pada sebuah warung kecil. Ia pun beristirahat dam makan disana. Ia makan dengan lahapnya karena sudah tidak sanggup menahan lapar lagi. Ternyata setelah dihitung, ia harus membayar sebesar Rp.7.000, sedangkan ia hanya mempunyai uang Rp.5.000 yang diberikan ibunya. Mengetahui hal itu, pemilik warung sangat marah dan berkata, “Sebagai gantinya, kamu harus membantu saya disini selama 2 minggu tanpa dibayar, untuk mengganti makanan dan minuman yang telah kamu habikan itu!” Rudi terkejut, tetapi ia tidak sanggup berkata apa-apa karena ia menyadari itu adalah kesalahannya yang tidak punya uang untuk membayar.

Besoknya, ia mulai bekerja di warung itu. Mulai dari melayani para pembeli sampai mencuci piring dan menutup toko pun ia lakukan. Walaupun begitu, ia tetap sabar dan percaya bahwa suatu hari ia bisa membahagiakan sang ibunda dan saudara perempuannya yang satu-satunya itu.

2 minggu pun berlalu. Hutang-hutangnya kepada pemilik warung itu telah selesai. Ia pun diperbolehkan pulang oleh sang pemilik warung. Setelah itu, ia terus mencoba untuk mencari pekerjaan hingga akhirnya ia sampai ke sebuah restoran mewah. “Wah, restoran ini mewah sekali. Apa mungkin ya saya bisa bekerja disini?” pikirnya dalam hati. Setelah memasuki restoran dan berbincang-bincang sejenak dengan pemilik restoran, akhirnya pemilik restoran pun setuju untuk memperkerjakan dia sebagai cleaning service. Dia sangat gembira dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Ia selalu tekun bekerja, tidak pernah putus asa, sampai akhirnya ia diangkat menjadi pencuci piring di restoran itu.

Suatu hari, koki restoran jatuh sakit. Padahal, sudah banyak pembeli di restoran itu karena restoran tersebut terkenal dengan masakannya yang lezat. Karena kasihan melihat para pembeli, Rudi pun segera bertindak. Tanpa berpikir panjang, ia memasak semua menu yang dipesan oleh para pembeli. Semue teman-temannya tentu saja sangat terkejut dan meragukan kemampuan Rudi. Bagaimana Rudi, seorang pencuci piring, bisa memasak di sebuah restoran mewah layaknya seorang koki yang handal? Semuanya pun bertanya-tanya heran.

Tidak disangka, ternyata semua pembeli sangat menikmati masakan Rudi. Masaknnya tidak kalah enak dibandingkan dengan koki yang sudah handal itu. Mendengar hal itu, tentu saja Rudi sangat terkejut. Bahkan, dia sendiri tidak menyangka bahwa ia bisa memasak. Wow!! Sebuah kejutan yang sangat luar biasa.

Berawal dari kejadian itu, ia pun diangkat menjadi koki di restoran itu. Semakin hari pembeli yang berdatangan semakin banyak saja. Keahlian Rudi dalam meracik dan mencampur adukkan bumbu masakan ternyata membuahkan sebuah hasil yang sangat luar biasa. Ia pun dikenal dengan julukan ‘koki muda’. Ia sangat bahagia mendengarnya.

Beberapa bulan kemudian, ia pulang ke desa untuk memberitahukan kabar baik ini untuk ibu dan kakaknya. Mendengar kabar baik tersebut, keduanya sangat bahagia, bangga dan terharu. Rudi kemudian mengajak keduanya untuk pindah ke kota untuk tinggal  bersamanya.

Rudi berkata kepada ibunya, “Ini berkat doa dari ibu dan kakak, dan tentu saja dengan modal Rp.5.000 yang ibu berikan, saya baru bisa sukses seperti ini.” Semuanya pun tertawa bahagia.

Pembaca yang berbahagia, dari cerita ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa :

  •      Dimana ada kemauan, disitu pasti ada jalan.
  •     Jangan cepat menyerah dan putus asa. Teruslah berjuang!
  •     Sebenarnya di dalam diri kita masing-masing tersimpan sebuah bakat yang luar biasa. Hanya saja terkadang kita tidak menyadari dan tidak mau mengembangkannya. So, gali dan temukan! ^.^

About Fenny Wongso

Keep in touch and you'll know more.. my twitter / line / Instagram : FennyWongso Feel free to share and Leave your comments here :)

Posted on March 24, 2012, in Random. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: