Monthly Archives: June 2012

Menang karena ADA saingan

Kok aneh judulnya? Menang karena ada saingan? Bukannya bisa menang karena nggak ada saingan?

Hmm.. tunggu dulu..

Coba kita bahas satu – satu..

Yang pertama adalah “Menang karena nggak ada saingan”. Kalau kita bisa menang karena nggak ada saingan, ya nggak asik donk. Hidup ini berasa gak ada tantangannya. Contohnya dalam perlombaan hanya kita sendiri yang menjadi pesertanya. Yah, mau gak mau pasti kita juara 1 nya kan ^^  Coba kita beralih ke tipe yang kedua yuks.. “Menang karena ADA saingan”! ini maksudnya apa sih ya? Ada saingan justru susah menangnya donk? Ya, mungkin sebagian orang berpikir seperti itu. Tapi, sadar gak, kalau kita mengikuti sebuah perlombaan, pesertanya semua okeh2. Kalau memang kita berniat jadi pemenang, pasti usaha dan motivasi kita jadi double, bahkan triple 😀

Karena ada saingan, maka kita tergerak untuk maju lebih banyak langkah daripada biasanya. Karena ada saingan, maka kita “kepepet” untuk bisa menang. Karena ada saingan, maka kita berjuang lebih keras lagi dari biasanya.

Saya lebih memilih kalah karena bekerja keras daripada menang tanpa ada saingan . #quote

Saingan itu bisa diciptakan. Mau tau caranya? Cek postingan saya selanjutnya ya 🙂
———————————————————————————————————

Your beloved friend,

Fenny Wongso

Advertisements

Kunjungan Media dan Perusahaan

Sedikit berbagi cerita dengan kawan – kawan tentang kunjungan media dan perusahaan yang diadakan oleh IMAJINASI FISIP USU beberapa waktu lalu, dan sudah pernah saya ceritakan sedikit disini. Tujuannya adalah agar kedepannya kita tidak bingung dalam mengambil konsentrasi yang sudah disediakan : apakah Jurnalistik atau Public Relation.

Kunjungan pada hari pertama yaitu pada tanggal 7 Juni 2012. Perusahaan yang kami tuju adalah PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk. Beberapa fotonya :

Hari kedua kami mengadakan kunjungan ke Deli TV Medan, woho ini asik banget ^^

 

Last day, kunjungan ke Harian Tribun Medan ^^

Sekian dulu ceritanya. Fotonya yang lain ada di group FB. Lihatnya muka saya aja ya. Itu udah ada kok diatas 😀

—————————

Your beloved friend,

Fenny Wongso

Pembentukan dan Perubahan Sikap

Pada dasarnya sikap bukan merupakan suatu pembawaan, melainkan hasil interaksi antara individu dengan lingkungan sehingga sikap bersifat dinamis. Sikap dapat pula dinyatakan sebagai hasil belajar, karenanya sikap dapat mengalami perubahan. Sesuai yang di nyatakan oleh Sheriff & Sheriff (1956), bahwa sikap dapat berubah karena kondisi dan pengaruh ayng diberikan. Sebagai hasil dari belajar sikap tidaklah terbentuk dengan sendirinya karena pembentukan sikap senantiasa akan berlangsung dalam interaksi manusia berkenaan dengan objek teretntu (Hudaniah, 2003).

Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap, antara lain:

1. Faktor internal, yaitu cara individu dalam menanggapi dunia luarnya dengan selektif sehingga tidak semua yang datang akan diterima atau ditolak.

a. Faktor – faktor Genetik dan Fisiologik

Faktor ini berperan penting dalam pembentukan sikap melalui kondisi – kondisi fisiologik. Misalnya waktu masih muda, individu mempunyai sikap negatif terhadap obat-obatan, tetapi ia menjadi biasa setelah menderita sakit sehingga secara rutin harus mengkonsumsi obat – obatan tertentu. Read the rest of this entry

Hidup bukan Teori

Berbagai kata – kata bijak itu emang bikin hati dan pikiran adem ayem, serasa terbuai gitu #tsahh. Itu sih sebenarnya sifat manusia. Suka membaca, suka mengucapkan, suka berkata, suka menggurui, tetapi perbuatannya, ya belum tentu sama dan sesuai dengan kata – katanya.

Alangkah baiknya kalau kita semua saling belajar, belajar dan belajar. Bukan hanya dari Teori saja. Bukan hanya dari kata – kata saja, tetapi juga dari perbuatan nyata atau Action.

Terkadang manusia itu hanya bisa berkomentar dan menyepelekan sesuatu karena dia belum tau apa yang sedang dialami orang lain.

Manusia, terkadang terlalu banyak mengeluh, terlalu banyak mengurusi hidup orang lain, sampai – sampai lupa bertanya, “Akan jadi apa hidupku nanti?”

Untuk merasakan panasnya bara api di telapak kaki kita, kita harus terlebih dahulu berjalan di atasnya. Sama seperti hidup, berjalanlah di atasnya, baru kita tahu, baru kita bisa rasakan.

Sifat dan karakter masing – masing orang berbeda – beda. Tujuan hidup masing – masing orang juga berbeda

Live on your own path, do your best, and expect for the worst.

Teori memang penting, ASAL digandengkan dengan usaha dan perbuatan yang nyata 🙂

————————————————————————————————————————————————–

Your beloved friend,

Fenny Wongso

Teori Sikap

Ada beberapa teori yang membantu kita untuk memahami bagaimana sikap dibentuk dan bagaimana sikap dapat berubah. Teori – teori tersebut tidak selalu bertentangan satu sama lain. Adapun teori – teori yang dimaksud yaitu :

1. Teori belajar

Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Carl Hovland dan rekannya. Asumsi di balik teori ini adalah bahwa proses pembentukan sikap sama seperti pembentukan kebiasaan. Orang mempelajari informasi dan fakta tentang objek sikap yang berbeda – beda dan mereka juga mempelajari perasaan dan nilai yang diasosiasikan dengan fakta itu (Taylor, 2009).

Teori ini banyak menggunakan prosedur classical conditioning (Arthur Staats). Menurut Staats, banyak sikap yang terbentuk secara classical conditioning. Keutamaan classical conditioning sebagai suatu mekanisme bagi pembentukan sikap terletak pada kenyataan bahwa melalui classical conditioning, individu akan dapat mempunyai reaksi – reakasi sikap yang kuat terhadap objek – objek sosial bahakn tanpa pengalaman langsung. Misalnya, seorang anak sejak kecil sudah diajari bahwa musik klasik adalah musik yang membosankan. Maka anak tersebut akan mengimplementasikan informasi yang diterimanya dan membentuk sebuah sikap secara tidak langsung terhadap musik klasik tersebut. Anak tersebut akan langsung menggambarkan musik klasik sebagai musik yang membosankan. Pemikiran ini terus berkembang sampai nanti anak tersebut dewasa. Musik klasik akan tetap menjad musik yang membosankan untuknya.

Proses belajar dasar juga berlaku untuk proses pembentukan sikap, yang dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu :

a. Association (asosiasi), yaitu penghubung dalam memori antara stimulus yang saling berkaitan. Misalnya, guru sejarah menceritakan tentang peristwa G30S / PKI dengan nada marah dan penuh permusuhan, kita akan membuat asosiasi antara perasaan negatif dengan kata “PKI”.

b. Reinforcement (penguatan), yaitu proses yang dilakukan seseorang dalam belajar menunjukkan respons tertentu setelah ia diberi imbalan saat ia menunjukkan respons itu. Misalnya, saat kita mendapat nilai A pada mata kuliah Psikologi Sosial dan gembira karenanya, maka tindakan untuk mengikuti kelas psikologi sosial akan diperkuat, dan kita kemungkinan besar akan semakin tertarik untuk mendalami ilmu psikologi di masa mendatang, begitu pula sebaliknya.

c. Imitation (peniruan), yaitu bentuk belajar yang melibatkan pemikiran, perasaaan, atau perilaku dengan cara meniru pemikiran, perasaan, dan perilaku orang lain. Misalnya, anak – anak cenderung meniru sikap dan perilaku orang tuanya sewaktu kecil.

d. Message learning (belajar pesan), yaitu ide bahwa perubahan sikap tergantung pada proses belajar indvidu terhadap isi dari komunikasi.

e. Transfer of effect (transfer efek), yaitu mengubah sikap dengan memindahkan efek yang disosialisasikan dengan objek lain. Misalnya, mobil yang dipasangkan dengan wanita cantik akan membuat kita percaya bahwa mobil itu bagus dan memiliki mobil itu akan membuat kita mendapatkan penghargaan sosial. Dengan kata lain, orang mengtransfer perasaan atau afek yang mereka rasakan tentang satu objek ke objek lain.

 

2. Teori konsistensi kognitif

Teori ini berfokus pada keberadaaan sikap sesuai satu sama lainnya atau dengan sikap – sikap yang lain. Teori ini memandang manusia sebagai pemroses informasi yang aktif yang mencoba memahami seluruhnya atas apa yang mereka rasakan, pikirkan, dan berbuat dimana mereka secara aktif menyusun dan menafsirkan dunia tersebut untuk membuat kecocokan terhadap inkonsistensi yang bisa terjadi di antara dan dalam sikap – sikap.

Ada beberapa teori spesifik yang menekankan arti penting dalam konsistensi kognitif, antara lain:

a. Teori keseimbangan

Pada dasarnya teori ini berkaitan dengan bagaimana sikap kita berkenaan dengan orang – orang dan objek sikap yang konsisten. Teori ini melibatkan tiga elemen, yaitu : perceiver, orang lain, dan objek lain. Ketiga elemen tersebut membentuk suatu kesatuan, dimana elemen – elemen tersebut bisa membentuk suatu kombinasi yang menghasilkan hubungan seimbang / tidak seimbang. Kondisi yang tidak seimbang akan menimbulkan ketegangan (tension) dan timbullah tekanan yang mendorong untuk megubah organisasi kognitif sedemikian rupa sehingga tercipta keadaan seimbang (Dayaksini, 2003).

b. Teori disonansi kognitif

Disonansi didefinisikan sebagai keadaan motivasional aversif yang terjadi saat beberapa perilaku yang kita lakukan tidak konsisten dengan sikap kita. Disonansi selalu muncul terutama jika sikap dan perilaku yang tak selaras itu adalah penting bagi diri kita (Aranson, 1968 ; Stone & Cooper, 2001).

Fokus dari teori ini adalah individu, yang menyelaraskan elemen-elemen kognisi, pemikiran atau struktur. Terdapat dua elemen kognitif; dimana disonansi terjadi jika kedua elemen tidak cocok sehingga menggangu logika dan pengharapan. Misalnya, seorang perokok yang mengerti bahwa merokok dapat mengakibatkan penyakit kanker. Kognisi : “saya seorang perokok” tidak sesuai dengan kognisi “merokok dapat mengakibtakan penyakit kanker”, karena itu membuat keadaan disonansi.

Disonansi menghasilkan suatu ketegangan psikologis yang mendorong seseorang mengurangi disonansi tersebut. Pengurangan disonansi dapat melalui tiga cara, yaitu :

1) Mengubah elemen tingkah laku

Misalnya, seorang perokok yang mengetahui bahaya merokok yang dapat mengakibatkan penyakit kanker. Maka untuk menghilangkan disonansi, perokok itu berusaha tidak merokok lagi.

2) Mengubah elemen kognitif lingkungan

Misalnya, perokok itu meyakinkan teman – temannya / saudara – saudaranya bahwa merokok itu tidak akan mengakibatkan penyakit kanker.

3) Menambah elemen kognitif baru

Misalnya, mencari pendapat teman lain yang mendukung pendapat bahwa merokok tidak akan mengakibatkan penyakit kanker.

 

3. Teori persepsi diri

Teori ini berfokus pada individu yang mengetahui akan sikapnya dengan mengambil kesimpulan dari perilakunya sendiri dan persepsinya tentang situasi. Implikasinya adalah perubahan perilaku yang dilakukan seseorang menimbulkan kesimpulan pada orang tersebut bahwa sikapnya telah berubah.

Misalnya, seseorang yang awalnya tidak bisa memasak tapi ia memasak setiap ada kesempatan dan ia baru sadar kalau dirinya suka menyukai / hobi memasak.

 

4. Teori presentasi diri

Menurut teori ini, orang memiliki sutau kebutuhan untuk mengabsahkan aspek – aspek penting dari konsep dirinya, terutama jika konsep dirinya terancam. Teori ini secara aktif mengelola self – image atau kesan yang mereka berikan kepada orang lain.

 

5. Teori ekspektasi nilai

Teori ini mengasumsikan bahwa orang mengadopsi posisi (pandangan) berdasarkan penilaian pro dan kontra (untung – rugi), yakni berdasarkan nilai yang mereka berikan pada kemungkinan efeknya. Menurut teori ini, dalam pengadopsian sikap, orang cenderung memaksimalkan penggunaan subjektif atas berbagai hasil yang diperkirakan, yang merupakan produk dari nilai hasil tertentu dan pengharapan (ekspetandi) bahwa posisi ini akan menimbulkan hasil yang bagus itu. Misalnya, Anda akan menentukan apakah Anda akan mendatangi pesta teman Anda nanti malam atau belajar di rumah. Anda mungkin memikirkan berbagai macam akibat atau kegiatan jika pergi ke pesta, nilai tentang akibat itu, dan pengharapan tentang akibat atau hasil itu.

Ringkasnya, teori ekspetansi nilai melihat pada keseimbangan insentif dan memprediksikan bahwa dalam situasi di mana ada tujuan yang saling bertentangan, orang akan memilih posisi yang memaksimalkan keuntungan buat mereka. Teori ini mengasumsikan bahwa orang adalah pembuat keputusan yang penuh perhitungan, aktif, dan rasional (Sears, 2009).

Active Listening

Don’t interrupt when someone is speaking

Listening is one of the most important skills you can have. How well you listen has a major impact on your job effectiveness, and on the quality of your relationships with others.

We listen to obtain information.
We listen to understand.
We listen for enjoyment.
We listen to learn.

Given all this listening we do, you would think we’d be good at it!

In fact most of us are not. Depending on the study being quoted, we remember between 25% and 50% of what we hear. That means that when you talk to your boss, colleagues, customers or spouse for 10 minutes, they pay attention to less than half of the conversation. This is dismal!

Turn it around and it reveals that when you are receiving directions or being presented with information, you aren’t hearing the whole message either. You hope the important parts are captured in your 25-50%, but what if they’re not?

Clearly, listening is a skill that we can all benefit from improving. By becoming a better listener, you will improve your productivity, as well as your ability to influence, persuade and negotiate. What’s more, you’ll avoid conflict and misunderstandings. All of these are necessary for workplace success!

Good communication skills require a high level of self-awareness. By understanding your personal style of communicating, you will go a long way towards creating good and lasting impressions with others.

The way to become a better listener is to practice “active listening”. This is where you make a conscious effort to hear not only the words that another person is saying but, more importantly, try to understand the complete message being sent.

In order to do this you must pay attention to the other person very carefully.

You cannot allow yourself to become distracted by whatever else may be going on around you, or by forming counter arguments that you’ll make when the other person stops speaking. Nor can you allow yourself to get bored, and lose focus on what the other person is saying. All of these contribute to a lack of listening and understanding.

Tip: If you’re finding it particularly difficult to concentrate on what someone is saying, try repeating their words mentally as they say them – this will reinforce their message and help you stay focused. Read the rest of this entry

Komponen Sikap

Para pakar psikologi sosial selalu mengkaji sikapsebagai komponen dari sistem yang terdiri atas tiga bagian atau disebut juga skema triadik yaitu; keyakinan mencerminkan komponen kognitif, sikap merupakan komponen afektif, dan tindakan mencerminkan komponen perilaku (Atkinson, R, L., Atkinson, R, C., & Hilgard, E, R., 1983:371).

Dewasa ini, definisi yang paling umum menggabungkan unsur – unsur dari kedua pendekatan, yaitu : sikap terhadap objek gagasan atau orang tertentu yang merupakan orientasi yang bersifat menetap dengan komponen – komponen yang merupakan hasil dari suatu interelasi terhadap sikap, dimana komponen – komponen tersebut menurut Allaport (dalam Mar’at, 1981) ada tiga, yaitu :

1. Komponen kognitif, yaitu komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan atau informasi yang dimiliki seeorang tentang objek sikapnya. Dari pengetahuan tesebut kemudian akan terbentuk suatu keyakinan tertentu tentang objek dari sikap tersebut.

2. Komponen afektif, yaitu komponen yang terdiri dari seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap suatu objek, terutama penilaian, yang bersifat evaluatif dan berhubungan erat dengan nilai – nilai kebudayaan atau sistem nilai yang dimilikinya.

3. Komponen konatif, yaitu merupakan kecenderungan seseorang untuk bertingkah laku yang berhubungan dengan objek sikapnya.

 

Interaksi antara komponen sikap:

–          Seharusnya membentuk pola sikap yang seragam ketika dihadapkan pada objek sikap.

–          Apabila salah satu komponen sikap tidak konsisten satu sama lain, maka akan terjadi ketidakselarasan

Akibat : terjadi perubahan sikap