Sikap di dalam Psikologi Sosial

“Thought is the child of action” ~ Benjamin Disraeli, Vivian Gray, 1926

Pikiran adalah anak dari tindakan. Sebelum bertindak, manusia pasti terlebih dahulu memikirkan apa yang akan dilakukannya. Lalu, apa hubungan dari pemikiran (sikap) dan tindakan (perilaku)? Para filsuf, pemuka agama, dan peneliti sudah lama mengspekulasi tentang hubungan antara sikap dan perilaku (apa yang dipikir dan diperbuat) sehingga dapat diasumsikan bahwa : Keyakinan atau kepercayaan kita menentukan perilaku kita secara umum, jadi apabila kita berharap untuk mengubah perilaku kita, kita harus terlebih dahulu mengubah hati dan pikiran kita.

Pada awalnya, para psikolog sosial menyetujui bahwa : Untuk mengetahui sikap seseorang adalah dengan memprediksi apa yang akan mereka lakukan (tindakan). Seperti yang didemonstrasikan oleh pembunuh genosida dan pelaku bom bunuh diri, sikap yang ekstrim dapat menghasilkan perilaku yang ekstrim pula. Akan tetapi, pada tahun 1964 Leon Festinger, seorang psikolog sosial asal New York, menyimpulkan : bukti – bukti menunjukkan bahwa mengubah sikap seseorang hampir tidak mempengaruhi perilaku mereka. Beliau percaya bahwa hubungan antara sikap dan perilaku berjalan dengan cara yang berbeda.

Ketika para psikolog sosial berbicara tentang sikap seseorang, mereka mengacu pada kepercayaan dan perasaan yang berkaitan dengan seorang individu atau sebuah peristiwa dan hasil dari kecenderungan perilaku yang dihasilkan. Menguntungkan atau tidak menguntungkannya suatu reaksi terhadap sesuatu sering berakar pada keyakinan dan dimunculkan dalam perasaan dan kecenderungan untuk bertindak disebut sebagai sebuah sikap (Eagly & Chaiken, 2005). Sikap mengkondisikan mental yang kompleks yang melibatkan keyakinan dan perasaan, serta disposisi untuk bertindak dengan cara tertentu. Dengan demikian, seseorang bisa saja mempunyai pandangan negatif terhadap kopi, pandangan netral terhadap bangsa Perancis, ataupun pandangan positif terhadap sebuah lukisan. Ketika kita harus merespon sesuatu dengan cepat, cara kita merasakan hal itu dapat menentukan bagaimana kita bereaksi.

Pembelajaran tentang sikap sangat dekat dengan “jantung” dari psikologi sosial dan merupakan salah satu konsentrasi yang utama. Beberapa abad belakangan ini, para peneiliti meragukan berapa banyak sikap kita yang kemudian membawa pengaruh bagi perilaku kita. Kita dapat mengingat tiga dimensi ini sebagai sikap ABC. Affect (feelings) atau perasaan, Behaviour tendency, dan Cognition (thoughts) atau pemikiran. Ketiga dimensi ini saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.

About Fenny Wongso

Keep in touch and you'll know more.. my twitter / line / Instagram : FennyWongso Feel free to share and Leave your comments here :)

Posted on June 22, 2012, in Sikap and tagged . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: