Monthly Archives: August 2012

Ospek : Penyambutan atau Pembodohan?

PMB (Penyambutan Mahasiswa Baru) atau yang lebih dikenal dengan “ospek” memang sudah menjadi tradisi yang turun temurun di lingkungan sekolah / kampus, kebanyakan sih di lingkungan kampus.

Sebelum masuk kuliah, mahasiswa baru biasanya akan disuruh botak (untuk laki-laki) dan rambutnya dikepang dan dikuncir ga karuan kayak orang gila (buat yang perempuan). Terus, ada beberapa fakultas yang mengharuskan mahasiswa barunya untuk membawa barang-barang yang menurut saya, tidak masuk otak. Apa hubungannya PMB dengan membawa petai dan dijadikan dasi? Apa juga hubungannya PMB dengan membawa karung beras sebagai tas?

Masih biasa. Ada beberapa ospek yang “gila” saya pikir. Gak etis rasanya kalau mahasiswa baru ditendang, dipukul, disiram pakai air sampah, dihukum habis-habisan, diancam, dan diteror bahkan sampai masuk kuliah, itu namanya pendidikan atau pembodohan?

Jujur saya masih bingun dengan beberapa kampus atau fakultas yang masih memegang tradisi ini. Kalau mau nyambut ya yang wajar-wajar saja. Kalau dibiarkan terus menerus ya nggak bakal selesai-selesai, apalagi urusan ospek semuanya diserahkan ke pihak senior, yang akan menjadi “lingkaran setan”. Mau dihentikan gak bisa, junior mau balas juga gak bisa. Alhasil junior yang dendam ke seniornya membalaskan dendamnya itu tahun depan ke juniornya alias mahasiswa baru. Ya jadi udah kayak lingkaran setan yang ga tau gimana akhirinya.

Solusinya? Ya harus ada pihak yang berani berhentikan tradisi ini. Tapi pihak yang mana? Semuanya kan mau cari aman saja. Apalagi senior yang ditanya, “Kenapa masih dilakukan hal-hal kayak gini?” Ya jawaban mereka pasti, “Apa boleh buat, sudah tradisi. Gak dilakukan nanti bermasalah senior atas, ya udah tradisi. Mau tidak mau tetap dilakukan, sekalian ajang pembalasan dendam juga.”

Dari awal sudah salah, sudah berakar, beranak cucu sampai sekarang, mau berhentiin? Ya susah..

Hadapi atau lawan saja sih menurut saya.

Jadi kembali lagi, ospek itu sebenarnya.. Penyambutan atau Pembodohan?

Masa Lalu : Sejarah atau Kenangan?

Berapa banyak dari kita yang senang tinggal di masa lalu? Atau berapa banyak dari kita yang memang sengaja tidak mau menghapus masa lalu dari memori kita?

Ternyata, masa lalu bisa dikategorikan menjadi 2, yakni masa lau yang disimpan sebagai sejarah dan masa lalu yang disimpan sebagai kenangan. Masa lalu sebagai sejarah berarti kita sudah tidak memiliki emosi apapun terhadap kejadian yang kita alami di masa lalu itu. Sedangkan masa lalu sebagai kenangan; pastilah kejadian yang pernah kita alami di masa lalu itu adalah satu kejadian yang tidak mungkin dilupakan, yang apabila diingat aan menimbulkan satu rasa, entah rasa apa, yang jelas masa lalu itu masih mempunyai emosi yang kuat.

Celakanya adalah kita sering menempatkan masa lalu di tempat yang salah; ia yang seharusnya menjadi sejarah, malah menjadi kenangan. Ia yang seharusnya tidak memiliki emosi, malah menimbulkan emosi saat kita mengingatnya. Aneh? Ya, awalnya saya juga berpikir demikian sampai saya tahu ternyata masih ada bagian dari masa lalu saya yang masih mempunyai emosi yang kuat saat saya mengingatnya dan itu berdampak buruk untuk diri saya yang sekarang.

Terkadang, ada satu hal / kejadian di masa lalu yang memang seharusnya dilupakan (baca : dijadikan sejarah) di dalam memori kita. Kebanyakan kejadian itu adalah kejadian yang tidak mengenakkan, misalnya : kehilangan seseorang, pernah disakiti, dll. Kalau kita masih mengingat-ingat kejadian itu dan di saat ini kita masih punya perasaan dendam, sakit, dll, artinya kita masih menyimpan masa lalu sebagai kenangan. Kenagan yang pahit, mungkin? Padahal yang namanya kenangan itu seharusnya yang manis dan membahagiakan, misalnya : rasa senang saat mendapat juara, saat berhasil mencapai sesuatu, dll.

Hendaknya kita bisa terlepas dari masa lalu yang masih membawa satu emosi yang pahit untuk diri kita yang sekarang. Atau dengan kata lain, kita harus bisa move on. Bisa move on bukan hanya bisa meneruskan hidup kita lalu melupakan masa lalu. Bisa move on juga artinya kita bisa memgang masa lalu itu DAN apabila masa lalu itu diungkit kembali, tidak akan menimbulkan emosi apapun di dalam diri kita (ia sudah menjadi sejarah, bukan lagi kenangan.)

Semoga bermanfaat! 🙂

“Manusia”

Apakah manusia itu? Siapakah manusia ini? Apakah makna hidup manusia?

Pertanyaan ini selalu merupakan pertanyaan yang muncul sepanjang sejarah pemikiran manusia dan dalam setiap kebudayaan dalam bentuk yang berbeda-beda. Pertanyaan ini dalam abad ini merupaakn pertanyaan yang aktuan dan mendesak.

Heidegger pernah mengatakan : “Tak pernah ada zaman kita yang memiliki begitu banyak dan beraneka pengertian mengenai manusia. Tetapi benar pula bahwa tak ada zaman yang paling kurang mengetahui tentang manusia daripada zaman kita.”

Pertanyaan mengenai manusia dapat muncul pula dari pengalaman negatif dan pengalaman kekosongan, seperti yang dikatakan Agustinus pada saat ia merasa sedih karena kehilangan teman. “Aku menjadi besar bagi diriku.” (Confessiones, IV, cap.4 : facts eram ipse mhi magna quaestio) dan seperti yang digambarkan oleh Albert Camus, manusia hidup dengan perasaan keterasingan (alienasi); dalam masyarakat industrial ia hidup dan diperlakukan seperti nomor-nomor, padahal manusia itu bukan seperti hewan, tetapi sebagai pribadi yang dapat berkata “Aku”, “Anda”, dan “Kita”. Hidup manusia tidak berkembang secara buta menurut irama alam atau naluri. Ia harus hidup dan harus berbuat sesuatu.

Manusia merupakan teka-teki terbesar bagi manusia. Ia harus mengerti dirinya sendiri agar dapat hidup dan agar ia dikenal oleh orang lain. Pada saat yang sama ia harus tetap bersembunyi bagi dirinya agar ia dapat terus hidup dan bebas. Karena apabila ia pada akhirnya mengetahui dirinya sepenuhnya, ia akan berakhir, karena segala sesuatu akan menjadi tetap. Seperti kata Moltmann : “The solution of the puzzle what man is, would then at the same time be the final release from being human.” (J.Moltmann, Man. Christian Anthropology in the Conflicts of the Present, SPCK, London, 1974, hlm.2)

Akhirnya, pertanyaan mengenai manusia lahir dari kebutuhan manusia akan makna total dari dirinya. Read the rest of this entry

Kerukunan

Kerukunan merupakan kondisi dimana semua golongan agama bisa hidup bersama secara damai tanpa mengurangi hak ataupun kebebasan masing – masing untuk menganut dan melaksanakan kewajiban agamanya. Kerukunan adalah istilah yang dipenuhi oleh muatan makana “baik” dan “damai”. Initnya, hidup bersama dalam masyarakat dengan “kesatuan hati” dan “bersepakat” untuk tidak menciptakan perselisihan dan pertengkaran. Bila makna tersebut dijadikan pegangan, maka “kerukunan” adalah sesuatu yang ideal yang didambakan oleh masyarakat.

Namun, apakah perselisihan dan pertengkaran yang terjadi saat ini adalah didikan nenek moyang kita? Atua perselisihan dan pertengkaran memang sudah sehakekat dengan kehidupan manusia sehingga dambaan terhadap “kerukunan” itu ada karena “ketidakrukunan” itupun sudah menjadi kodrat dalam masyarakat manusia?

Pertanyaan seperti tersebut di atas bukan menginginkan jawaban akan tetapi hanya untuk mengingatkan bahwa manusia itu senantiasa bergelut dengan tarikan yang berbeda arah, antara harapan dan kenyataan, antara cita – cita dan yang tercipta.

Dikutip dari Diktat Perkuliahan Agama Buddha UKM Buddhis USU

Cita-cita dan impian

Sewaktu kecil, kita seringkali ditanya “Apa cita-citamu kalau sudah besar nanti?”

Sebagian besar dari kita pasti menjawab : dokter, polisi, pilot, dsb. Tapi kenapa saat kita sudah mulai memasuki usia 15 tahun keatas, atau lebih tepatnya saat memasuki dan menduduki bangku SMA, kita bingung untuk menjawab pertanyaan serupa yang diajukan 10 tahun yang lalu. Jawabannya mungkin tidak lagi dokter, polisi, atau pilot. Malahan, sebagian besar dari kita bingung.. “Nanti saya mau jadi apa ya? Cita-cita saya ini sebenarnya apa sih?”

Hal demikian juga terjadi pada saya. Sewaktu kecil, saya bercita-cita ingin menjadi dokter, kayaknya sih keren, trus bisa menolong banyak orang. Lalu saat memasuki bangku SMP, cita-cita saya berubah lagi, ingin menjadi seorang arsitek sekaligus penyanyi mengingat hobi saya yang suka menyanyi. Arsitek keren loh, tinggal gambar-gambar dapat duit banyak. Nah, saat saya memasuki bangku SMA, saya mulai bingung. Sebenarnya apa cita-cita saya? Mau jadi apa ya saya nanti? Mau masuk jurusan apa ya di kelas dua nanti? IPA atau IPS? Lagi-lagi #persoalan..

Cita-cita itu seperti angan-angan. Atau bisa dikatakan sebagai keinginan. Sekedar ingin, tetapi tidak tahu bagaimana jalan kesana, tidak tahu bagaimana cara mencapainya. Cita-cita terbentuk dari berbagai macam faktor; bisa itu karena ikut-ikutan, terlihat keren, dsb. Karena itulah cita-cita mudah berubah. Saat melihat satu pekerjaan atau orang-orang yang terihat “keren”, kita cenderung ingin mengikutinya.

Impian.. impian bisa dikatakan angan-angan pula, namun tidak sepenuhnya. Impian itu sudah memiliki visi dan tujuan yang jelas. Katakan saja seperti impian akan menjadi seorang pengusaha kuliner. Dengan cara apa kita bisa menuju kesana. Jadi, ada jembatan antara diri kita yang sekarang dengan impian kita ynag nanti. Memiliki impian berarti kita sudah membangun “jembatan” untuk menuju kesana.

Berbeda lagi dengan passion. Memiliki passion berarti memiliki “jiwa” terhadap suatu hal; benar-benar menyukai satu hal dan memiliki tekad penuh untuk itu. katakan saaj seorang yang suka dan memiliki hobi memasak, lalu memasak menjadi rutinitas sampai sudah “mendarah daging” di dalam dirinya, dan pada akhirnya impiannya adalah menjad chef terkenal / mempunyai restoran. Itulah yang dinamakan passion.

Terima kasih kepada guru saya, sebut saja RR, yan sudah memberi penjelasan tentang cita-cita dan impian. Penjelasan beliau saya ulas kembali disini. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Tinggal memilih, masih akan hidup untuk cita-cita atau ingin membangun impian?

—————————————————————————————————————–

Your beloved friend,

Fenny Wongso

“Food For Charity” Bukber with 111 anak yatim

Halo Medan! ^^

Di bulan yang penuh berkah ini, @GeboYLovers dan Komunitas ZUPER Sobat @Motivatweet Medan akan mengadakan acara buka puasa bersama 111 anak yatim yang akan diselenggarakan pada :

Hari / tanggal     : Minggu, 12 Agustus 2012

Lokasi                 : GEBOY “Fruit Soup&Coffee”

                              Jl.T.Amir Hamzah Komp.Griya Riatur Blok B No.198

Waktu                : pkl. 16.30 s.d. selesai

BBSM Medan

BBSM Medan

Acara yang mengangkat tema “Food For Charity” ini merupakan acara ketiga Komunitas ZUPER setelah acara buka puasa tahun lalu yang mengangkat tema Entrepreneurship dan juga acara sosial berupa donor darah bulan April lalu. Selain acara buka puasa bersama, juga akan ada Live Music oleh Mayonese Band dan special magic performance oleh Komunitas Demian Miracle Medan. Acara yang mendapat dukungan dari banyak pihak seperti radio Delta FM Medan, TDA Medan, Hijabers Medan ini dijamin berbeda dari yang lain. Di sela-sela acara sampai akhir acara akan ada pembagian hadiah kepada anak yatim oleh Komunitas @Motivagift Medan.

Wah, acaranya dijamin seru banget! ^^

Untuk berpartisipasi dalam acara ini, satu orang akan dikenakan biaya Rp.50.000 (termasuk voucher makan + donasi untuk anak yatim). Panitia juga memberi kesempatan sebesar-besarnya bagi pihak yang ingin menyampaikan donasinya kepada anak yatim. Bagi yang ingin berpartisipasi silahkan daftar dengan sms ke nomor 08977131782 atau Follow twitter @FennyWongso untuk informasi lebih lanjut.