Cita-cita dan impian

Sewaktu kecil, kita seringkali ditanya “Apa cita-citamu kalau sudah besar nanti?”

Sebagian besar dari kita pasti menjawab : dokter, polisi, pilot, dsb. Tapi kenapa saat kita sudah mulai memasuki usia 15 tahun keatas, atau lebih tepatnya saat memasuki dan menduduki bangku SMA, kita bingung untuk menjawab pertanyaan serupa yang diajukan 10 tahun yang lalu. Jawabannya mungkin tidak lagi dokter, polisi, atau pilot. Malahan, sebagian besar dari kita bingung.. “Nanti saya mau jadi apa ya? Cita-cita saya ini sebenarnya apa sih?”

Hal demikian juga terjadi pada saya. Sewaktu kecil, saya bercita-cita ingin menjadi dokter, kayaknya sih keren, trus bisa menolong banyak orang. Lalu saat memasuki bangku SMP, cita-cita saya berubah lagi, ingin menjadi seorang arsitek sekaligus penyanyi mengingat hobi saya yang suka menyanyi. Arsitek keren loh, tinggal gambar-gambar dapat duit banyak. Nah, saat saya memasuki bangku SMA, saya mulai bingung. Sebenarnya apa cita-cita saya? Mau jadi apa ya saya nanti? Mau masuk jurusan apa ya di kelas dua nanti? IPA atau IPS? Lagi-lagi #persoalan..

Cita-cita itu seperti angan-angan. Atau bisa dikatakan sebagai keinginan. Sekedar ingin, tetapi tidak tahu bagaimana jalan kesana, tidak tahu bagaimana cara mencapainya. Cita-cita terbentuk dari berbagai macam faktor; bisa itu karena ikut-ikutan, terlihat keren, dsb. Karena itulah cita-cita mudah berubah. Saat melihat satu pekerjaan atau orang-orang yang terihat “keren”, kita cenderung ingin mengikutinya.

Impian.. impian bisa dikatakan angan-angan pula, namun tidak sepenuhnya. Impian itu sudah memiliki visi dan tujuan yang jelas. Katakan saja seperti impian akan menjadi seorang pengusaha kuliner. Dengan cara apa kita bisa menuju kesana. Jadi, ada jembatan antara diri kita yang sekarang dengan impian kita ynag nanti. Memiliki impian berarti kita sudah membangun “jembatan” untuk menuju kesana.

Berbeda lagi dengan passion. Memiliki passion berarti memiliki “jiwa” terhadap suatu hal; benar-benar menyukai satu hal dan memiliki tekad penuh untuk itu. katakan saaj seorang yang suka dan memiliki hobi memasak, lalu memasak menjadi rutinitas sampai sudah “mendarah daging” di dalam dirinya, dan pada akhirnya impiannya adalah menjad chef terkenal / mempunyai restoran. Itulah yang dinamakan passion.

Terima kasih kepada guru saya, sebut saja RR, yan sudah memberi penjelasan tentang cita-cita dan impian. Penjelasan beliau saya ulas kembali disini. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Tinggal memilih, masih akan hidup untuk cita-cita atau ingin membangun impian?

—————————————————————————————————————–

Your beloved friend,

Fenny Wongso

About Fenny Wongso

Keep in touch and you'll know more.. my twitter / line / Instagram : FennyWongso Feel free to share and Leave your comments here :)

Posted on August 14, 2012, in Articles and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: