Category Archives: Articles

4 jenis teman yang harus kita miliki

1. Tipe pengkritik

Teman dengan tipe jenis ini akan selalu mengingatkan ketika kita melakukan kesalahan. Tanpa diminta pun, ia akan selalu mengkritik kita bila melakukan sesuatu hal yang menyimpang. Tipe ini sangat baik untuk mengingatkan kita pada jalan yang benar, meskipun terkadang menyakitkan mendengar kritiknya yang agak pedas.

2. Tipe pendukung

Anda yang memiliki teman seperti ini sangat beruntung, karena teman tipe ini akan selalu mendukung apa yang Anda lakukan dan ikut bahagia dengan kesuksesan Anda. Anda akan selalu merasa semangat dan termotivasi bila berada dekat-dekat dengannya.

3. Tipe penggembira

Mungkin tipe seperti ini yang lebih banyak disukai. Teman dengan tipe penggembira akan selalu membuat Anda ceria kembali di saat sedih dan berduka. rasanya tidak lengkap jika berkumpul tapi tidak ada teman Anda yang satu ini. Di saat Anda frustasi dan depresi, teman tipe inilah yang lebih banyak membuat Anda tertawa.

4. Tipe pembimbing

Anda akan merasa lebih bahagia ketika memiliki teman tipe ini. Berada di sekitarnya akan membuat Anda merasa tenang dan damai. Ia pun akan selalu memberi masukan dan nasihat yang berguna dikala Anda membutuhkannya. Rasanya hidup Anda menjadi terarah karena ada teman yang memberi masukan penting untuk hidup Anda. Jika Anda belum memiliki teman-teman seperti di atas, sebaiknya mulailah mencari karena saling berbagi karena teman yang seimbang akan membuat hidup Anda lebih seimbang. Anda pun bisa terhindar dari penyakit stres dengan saling berbagi dengan mereka..

Sumber : articles on facebook.com

“Manusia”

Apakah manusia itu? Siapakah manusia ini? Apakah makna hidup manusia?

Pertanyaan ini selalu merupakan pertanyaan yang muncul sepanjang sejarah pemikiran manusia dan dalam setiap kebudayaan dalam bentuk yang berbeda-beda. Pertanyaan ini dalam abad ini merupaakn pertanyaan yang aktuan dan mendesak.

Heidegger pernah mengatakan : “Tak pernah ada zaman kita yang memiliki begitu banyak dan beraneka pengertian mengenai manusia. Tetapi benar pula bahwa tak ada zaman yang paling kurang mengetahui tentang manusia daripada zaman kita.”

Pertanyaan mengenai manusia dapat muncul pula dari pengalaman negatif dan pengalaman kekosongan, seperti yang dikatakan Agustinus pada saat ia merasa sedih karena kehilangan teman. “Aku menjadi besar bagi diriku.” (Confessiones, IV, cap.4 : facts eram ipse mhi magna quaestio) dan seperti yang digambarkan oleh Albert Camus, manusia hidup dengan perasaan keterasingan (alienasi); dalam masyarakat industrial ia hidup dan diperlakukan seperti nomor-nomor, padahal manusia itu bukan seperti hewan, tetapi sebagai pribadi yang dapat berkata “Aku”, “Anda”, dan “Kita”. Hidup manusia tidak berkembang secara buta menurut irama alam atau naluri. Ia harus hidup dan harus berbuat sesuatu.

Manusia merupakan teka-teki terbesar bagi manusia. Ia harus mengerti dirinya sendiri agar dapat hidup dan agar ia dikenal oleh orang lain. Pada saat yang sama ia harus tetap bersembunyi bagi dirinya agar ia dapat terus hidup dan bebas. Karena apabila ia pada akhirnya mengetahui dirinya sepenuhnya, ia akan berakhir, karena segala sesuatu akan menjadi tetap. Seperti kata Moltmann : “The solution of the puzzle what man is, would then at the same time be the final release from being human.” (J.Moltmann, Man. Christian Anthropology in the Conflicts of the Present, SPCK, London, 1974, hlm.2)

Akhirnya, pertanyaan mengenai manusia lahir dari kebutuhan manusia akan makna total dari dirinya. Read the rest of this entry

Cita-cita dan impian

Sewaktu kecil, kita seringkali ditanya “Apa cita-citamu kalau sudah besar nanti?”

Sebagian besar dari kita pasti menjawab : dokter, polisi, pilot, dsb. Tapi kenapa saat kita sudah mulai memasuki usia 15 tahun keatas, atau lebih tepatnya saat memasuki dan menduduki bangku SMA, kita bingung untuk menjawab pertanyaan serupa yang diajukan 10 tahun yang lalu. Jawabannya mungkin tidak lagi dokter, polisi, atau pilot. Malahan, sebagian besar dari kita bingung.. “Nanti saya mau jadi apa ya? Cita-cita saya ini sebenarnya apa sih?”

Hal demikian juga terjadi pada saya. Sewaktu kecil, saya bercita-cita ingin menjadi dokter, kayaknya sih keren, trus bisa menolong banyak orang. Lalu saat memasuki bangku SMP, cita-cita saya berubah lagi, ingin menjadi seorang arsitek sekaligus penyanyi mengingat hobi saya yang suka menyanyi. Arsitek keren loh, tinggal gambar-gambar dapat duit banyak. Nah, saat saya memasuki bangku SMA, saya mulai bingung. Sebenarnya apa cita-cita saya? Mau jadi apa ya saya nanti? Mau masuk jurusan apa ya di kelas dua nanti? IPA atau IPS? Lagi-lagi #persoalan..

Cita-cita itu seperti angan-angan. Atau bisa dikatakan sebagai keinginan. Sekedar ingin, tetapi tidak tahu bagaimana jalan kesana, tidak tahu bagaimana cara mencapainya. Cita-cita terbentuk dari berbagai macam faktor; bisa itu karena ikut-ikutan, terlihat keren, dsb. Karena itulah cita-cita mudah berubah. Saat melihat satu pekerjaan atau orang-orang yang terihat “keren”, kita cenderung ingin mengikutinya.

Impian.. impian bisa dikatakan angan-angan pula, namun tidak sepenuhnya. Impian itu sudah memiliki visi dan tujuan yang jelas. Katakan saja seperti impian akan menjadi seorang pengusaha kuliner. Dengan cara apa kita bisa menuju kesana. Jadi, ada jembatan antara diri kita yang sekarang dengan impian kita ynag nanti. Memiliki impian berarti kita sudah membangun “jembatan” untuk menuju kesana.

Berbeda lagi dengan passion. Memiliki passion berarti memiliki “jiwa” terhadap suatu hal; benar-benar menyukai satu hal dan memiliki tekad penuh untuk itu. katakan saaj seorang yang suka dan memiliki hobi memasak, lalu memasak menjadi rutinitas sampai sudah “mendarah daging” di dalam dirinya, dan pada akhirnya impiannya adalah menjad chef terkenal / mempunyai restoran. Itulah yang dinamakan passion.

Terima kasih kepada guru saya, sebut saja RR, yan sudah memberi penjelasan tentang cita-cita dan impian. Penjelasan beliau saya ulas kembali disini. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Tinggal memilih, masih akan hidup untuk cita-cita atau ingin membangun impian?

—————————————————————————————————————–

Your beloved friend,

Fenny Wongso

Jangan NGAREP!

“Saya sudah mencoba sepuluh kali. Gagal terus. Saya menyerah.” begitu kata si pesimis. Jangan tertawa. Mungkin beberapa dari kita juga merasakan hal yang sama, termasuk saya. Rasa-rasanya sudah mengerahkan seluruh tenaga dan pikiran. Focus. Udah. Motivasi. Lebih dari cukup. Action. Udah. Terus apa lagi? Kok bisa gagal terus?

Ketekunan. Kesabaran. Kadang-kadang kita lupa memasukkannya.

Sepuluh kali gagal, apakah kita tekun untuk mencoba lagi? Berlatih lagi? Bukan sekedar “bangkit dari kegagalan”, tetapi juga bercermin dan memperbaiki diri. Belajar lagi. Mungin banyak hal yang belum kita ketahui. Dan mungkin juga hal itulah yang selama ini menjadi “batu penghalang” di dalam setiap perjalanan kita.

Berusaha sedikit, meminta banyak. Memberi satu, mengharapkan seribu. Mustahil. Baru berusaha satu jam, mengharapkan hasil seperti yang dikerjakan orang lain selama seribu jam. Mustahil!

Mencoba sepuluh kali lalau menyerah. Tidak ada yang tahu bahwa di kali kesebelas kita mungkin akan berhasil. Berusaha, walaupun sedikit, tetapi tekun, sabar. Tidak buru-buru memetik hasilnya. Tetap sabar.

Sabar? Sampai kapan? Ya sampai kesabaran kita itu menghasilkan. Tekun mencoba, lagi dan lagi. Bukan hanya mencoba dan sekedar bangkit, tetapi juga memperbaiki diri, menyusun strategi, dan belajar dari orang lain.

Jadi, jangan NGAREP ya! Mungkin kita kurang tekun dan kurang sabar. Belum nyampe deh rezekinya ^^

Semoga bermanfaat 🙂
————————————————————————————————————————————-

Your beloved friend,

Fenny Wongso

Menciptakan saingan

Di dalam tulisan saya beberapa waktu lalu, saya pernah menyinggung tentang “menciptakan saingan”. Di dalam setiap kompetisi dalam hidup, memang perlu sekali menciptakan saingan. Mengapa?  Agar kita bisa lebih tergerak untuk maju. Ingat, maju karena ADA saingan.

Saingan membuat kita tertantang. Saingan membuat kita sebagai satu pribadi yang lebih baik lagi daripada sebelumnya. Bahwa kita harus lebih baik daripada saingan kita, dan kita akan mencari cara – cara bagaimana untuk mengalahkan saingan kita itu. ya, supaya kita bisa keluar menjadi pemenang.

Saingan itu perlu diciptakan. Saingan paling dekat yang ada di dalam diri kita bernama “IMPIAN”. Untuk menjadi lebih baik, kita harus mempunyai mimpi. Untuk menjadi lebih baik, kita harus punya goals di  setiap tindakan yang kita lakukan. Dengan menyadari bahwa kita mempunyai impian, pikiran kita akan tergerak untuk merealisasikan impian itu. Dengan mempunyai impian, kita menciptakan saingan. Bukan orang lain, melainkan saingan terdekat di dalam diri kita sendiri.

Kalahkan saingan itu. Kalahkan impian itu, dan keluarlah sebagai pemenang.

YES, I’M READY TO WIN! 🙂

———————————-

Your beloved friend,

Fenny Wongso

Don’t fight for your dreams, Chase!

This time, I want to share about “Dreams” written by Linsey Hewis Hasenbank. Here’s what she said :

“I used to think dreams just landed in your lap and unfolded effortlessly…that if they were meant to be, they’d justhappen. But the truth is, there’s a whole lot of wrestling that goes on behind the scenes of a big dream…wrestling with yourself {and all your fears}, wrestling with what others think {not everyone will approve}, wrestling with the world {full of obstacles and traps}, and wrestling with what we believe. {Can God really be trusted?}

I’m beginning to believe that the wrestling is as important as the dreaming…that how you fight for the dream is as life-changing as the dream itself. One thing’s for sure: chasing a dream can wear you out. That’s where I find myself today…absolutely exhasuted. But in some ways, worn out is just where I need to be in order to freely receive all that God has for me. Otherwise, I’m too fearful, distracted, “capable” and proud to acknowledge there’s a better way than my way.

How about you? What dream are you fighting for these days? Is there something stirring in your heart that you’re afraid to follow? Let me encourage you as you’ve encouraged me: GO FOR IT! Dream big and fight hard! You’re worth it!”

 

Menang karena ADA saingan

Kok aneh judulnya? Menang karena ada saingan? Bukannya bisa menang karena nggak ada saingan?

Hmm.. tunggu dulu..

Coba kita bahas satu – satu..

Yang pertama adalah “Menang karena nggak ada saingan”. Kalau kita bisa menang karena nggak ada saingan, ya nggak asik donk. Hidup ini berasa gak ada tantangannya. Contohnya dalam perlombaan hanya kita sendiri yang menjadi pesertanya. Yah, mau gak mau pasti kita juara 1 nya kan ^^  Coba kita beralih ke tipe yang kedua yuks.. “Menang karena ADA saingan”! ini maksudnya apa sih ya? Ada saingan justru susah menangnya donk? Ya, mungkin sebagian orang berpikir seperti itu. Tapi, sadar gak, kalau kita mengikuti sebuah perlombaan, pesertanya semua okeh2. Kalau memang kita berniat jadi pemenang, pasti usaha dan motivasi kita jadi double, bahkan triple 😀

Karena ada saingan, maka kita tergerak untuk maju lebih banyak langkah daripada biasanya. Karena ada saingan, maka kita “kepepet” untuk bisa menang. Karena ada saingan, maka kita berjuang lebih keras lagi dari biasanya.

Saya lebih memilih kalah karena bekerja keras daripada menang tanpa ada saingan . #quote

Saingan itu bisa diciptakan. Mau tau caranya? Cek postingan saya selanjutnya ya 🙂
———————————————————————————————————

Your beloved friend,

Fenny Wongso