Category Archives: Hidup

Apa tujuan hidupmu?

Pernah satu kali saya ditanya, “Apa tujuan hidupmu?”

Setelah berpikir cukup lama, saya pun menjawab, “Bisa mewujudkan semua mimpi dan keinginan daya juga membahagiakan orang-orang yang saya cintai, terutama keluarga saya.”

Dijawabnya dengan nada yang agak meremehkan dan tidak enak didengar, “Ya.. Memang baik sih tujuan hidupmu, tapi rasanya masih belum tepat…

Dia berhenti sejenak, dan saya pun berpikir dalam hati. Ini orang aneh. Hidup hidupku kok malah situ yang ngatur tepat enggaknya? Emangnya situ siapa?

… Tujuan hidupmu itu seharusnya “SURGA”, dia kemudian melanjutkan.

“Sebenarnya surga itu sudah ada di dalam diri kita, tetapi kita perlu mencari surga yang sebenarnya, bertemu dengan Tuhan, barulah hidup kita sempurna, barulah hidup kita memiliki tujuan yang jelas.”

Lah, emangnya ada yang tau surga itu ada atau enggak? Emangnya kamu sendiri sedang mencari-cari surga sampai sekarang? Kok yah manusia itu aneh, lebih senang mencari-cari yang belum jelas daripada yang sudah tersedia. Uang ada, mobil ada, rumah ada, cita-cita ada, nah itu yang seharusnya dicari. Kalau ingin mengetahui keberadaan surga dan mencari surga, mengapa tidak pergi ke sana saja sekarang?

“Uang, harta, dan semuanya itu adalah semu, duniawi. Kita harus belajar bagaimana caranya untuk tidak selalu memikirkan hal-hal yang bersifat duniawi, tetapi juga surgawi,” katanya.

“Kalau begitu, sekarang jual saja semua harta bendamu, lalu pergilah berdoa sepanjang hidupmu sampai surga itu kau temukan,” jawabku kemudian.

Dia diam sejenak dan kemudian menjawab, “Semua hanya Tuhan yang tau. Itu semua masih misteri dan menjadi rahasiaNya sampai Dia menghendaki kita untuk melihat surga itu sendiri.”

Aduh aduhhhh… #tepokjidat deh..

Hidup bukan Teori

Berbagai kata – kata bijak itu emang bikin hati dan pikiran adem ayem, serasa terbuai gitu #tsahh. Itu sih sebenarnya sifat manusia. Suka membaca, suka mengucapkan, suka berkata, suka menggurui, tetapi perbuatannya, ya belum tentu sama dan sesuai dengan kata – katanya.

Alangkah baiknya kalau kita semua saling belajar, belajar dan belajar. Bukan hanya dari Teori saja. Bukan hanya dari kata – kata saja, tetapi juga dari perbuatan nyata atau Action.

Terkadang manusia itu hanya bisa berkomentar dan menyepelekan sesuatu karena dia belum tau apa yang sedang dialami orang lain.

Manusia, terkadang terlalu banyak mengeluh, terlalu banyak mengurusi hidup orang lain, sampai – sampai lupa bertanya, “Akan jadi apa hidupku nanti?”

Untuk merasakan panasnya bara api di telapak kaki kita, kita harus terlebih dahulu berjalan di atasnya. Sama seperti hidup, berjalanlah di atasnya, baru kita tahu, baru kita bisa rasakan.

Sifat dan karakter masing – masing orang berbeda – beda. Tujuan hidup masing – masing orang juga berbeda

Live on your own path, do your best, and expect for the worst.

Teori memang penting, ASAL digandengkan dengan usaha dan perbuatan yang nyata 🙂

————————————————————————————————————————————————–

Your beloved friend,

Fenny Wongso

Dunia ini KEJAM, bung!

Kemiskinan di mana – mana, anak – anak jalanan, pengangguran. Begitulah realita yang kita jumpai di dunia ini, terutama di negara kita, Indonesia.

Dunia ini memang kejam, apabila kita memandang segala sesuatu yang ada di dunia ini sebagai sesuatu yang menyedihkan. Mungkin beberapa dari kamu mengatakan dunia ini sungguh sangat baik. Ketika dipuji, dihormati, diagung – agungkan.

Lantas, bagaimana nasib mereka? Nasib anak – anak yang belum tahu akan jadi apa mereka besok. Nasib para pengangguran yang keluarganya butuh makanan untuk bisa bertahan hidup. Nasib anak – anak jalanan yang berjuang menggapai cita – cita mereka.

Apa daya,mereka tak mampu. Tidak ada perhatian, sentuhan tangan, dan motivasi dari orang – orang terdekat. Dunia begitu kejam kepada mereka. Mereka terus terpuruk. Berjuang tanpa arah, hidup tanpa tujuan. Bukankah mereka juga manusia yang seharusnya mendapat “perlakuan” seperti manusia lainnya?

Oh dunia.. Kadang baik, kadang kejam. Kadang memberi ujian, kadang menghadiahi. Kadang memberi harapan dan semangat, kadang menciptakan keputusasaan.

Aku belajar untuk menyederhanakan kekejaman, dengan percaya bahwa esok matahari akan terbit lagi, bahwa aka nada harapan dan semangat baru lagi, bahwa malam akan berganti menjadi pagi lagi. Ya, berat ringan, susah senang, bahagia perih, semuanya harus dijalani, semuanya harus dilewati. Mau tidak mau, suka tidak suka. Ya, beginilah hidup ini.

Dunia ini memang kejam, dan tugas kita adalah menjdi lebih KEJAM daripada dunia. Karena dunia ini kejam, maka TUSUKLAH!

———————————————————————————————————————————————–

Your beloved friend,

Fenny Wongso

Hidup BUKAN Pilihan!

Terima kasih Anda telah meluangkan waktu Anda untuk membaca artikel saja yang saya beri tema “Hidup BUKAN Pilihan!”

Sebagian besar dari kita selalu mengatakan bahwa hidup adalah pilihan. Hidupku adalah pilihanku sendiri, bukan orang lain. Tapi coba kita gali lagi lebih dalam, apakah benar hidup kita itu sepenuhnya merupakan pilihan kita?

Hidup seseorang berawal dari ia lahir ke dunia ini, lahir dari rahim seorang ibu, membawa status sebagai seorang bayi. Bayi yang kecil,mungil, dan lucu. Ingatkah Anda saat Anda mengalami masa – masa seperti itu? Masa – masa dimana Anda terlahir menjadi seorang bayi? Apakah terlahir menjadi seorang bayi merupakan “Pilihan” Anda? Coba renungkan baik – baik..

Ada terlahir dari latar belakang keluarga yang berbeda – beda. Ada yang terlahir di dalam keluarga yang bahagia, berlatar belakang pendidikan yang tinggi, dihormati dan disegani oleh masyarakat. Ada pula yang terlahir di keluarga yang biasa – biasa saja, dan ada juga yang terlahir di keluarga miskin yang tinggal di rumah kecil , kumuh, memiliki keluarga yang berlatar belakang pendidikan rendah yang  pekerjaannya hanya cukup untuk memberi makan dirnya dan keluarganya saja. Semuanya pas – pasan. Tidak ada yang tersisa.

Apakah itu pilihan? Terlahir sebagai orang kaya? Orang miskin? Anak seorang pejabat? Pewaris tunggal di sebuah kerajaan? Tidak.. Ternyata semua itu adalah bagian dari Takdir.

Bayangkan saja apabila seorang bayi yang baru keluar dari rahim ibunya bisa memilih apakah ia akan lahir dengan selamat atau tidak. Bayangkan lagi apabila bayi tersebut bisa memilih akan hidup dalam keluarga dalam latar belakang tertentu. Aneh bukan?

Hidup kita sekarang adalah takdir, bukan pilihan. Manusia tidak mempunyai daya untuk mengubah takdir, tapi manusia mempunyai daya dan kemampuan untuk mengubah pandangan serta persepsinya dalam melihat “takdir” hidupnya. Itulah yang dinamakan pilihan.

Kita mengira kita tahu segalanya. Kita memiliki rencana, strategi, masa depan, dan ide yang sangat rinci tentang apa yang akan kita lakukan sesampainya di tujuan. Kita tidak terlatih untuk membuka diri pada takdir, apalagi mempercayainya. Atau, bahkan percaya pada hal – hal yang tidak dapat diprediksi dan tidak diharapkan.

Bukan hanya kehidupan yang merupakan takdir, tetapi juga kematian. Anda tidak bisa memilih apakah Anda akan meninggalkan dunia ini sekarang, nanti, atau besok. Demikian pula Anda tidak bisa memilih akan terlahir sebagai apa dan dibesarkan dengan cara apa.

Hidup bukan Pilihan, tetapi kehidupan di dalam hidup, itulah Pilihan. Ada beberapa hal yang menjadi pilihan sesungguhnya di dalam hidup, yaitu : Kebahagiaan, Cinta serta kasih sayang, Popularitas, Uang, Nama baik, serta Kedamaian.

Berbahagialah!!

——————–

Your beloved friend,

Fenny Wongso