Category Archives: Sikap

Pembentukan dan Perubahan Sikap

Pada dasarnya sikap bukan merupakan suatu pembawaan, melainkan hasil interaksi antara individu dengan lingkungan sehingga sikap bersifat dinamis. Sikap dapat pula dinyatakan sebagai hasil belajar, karenanya sikap dapat mengalami perubahan. Sesuai yang di nyatakan oleh Sheriff & Sheriff (1956), bahwa sikap dapat berubah karena kondisi dan pengaruh ayng diberikan. Sebagai hasil dari belajar sikap tidaklah terbentuk dengan sendirinya karena pembentukan sikap senantiasa akan berlangsung dalam interaksi manusia berkenaan dengan objek teretntu (Hudaniah, 2003).

Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap, antara lain:

1. Faktor internal, yaitu cara individu dalam menanggapi dunia luarnya dengan selektif sehingga tidak semua yang datang akan diterima atau ditolak.

a. Faktor – faktor Genetik dan Fisiologik

Faktor ini berperan penting dalam pembentukan sikap melalui kondisi – kondisi fisiologik. Misalnya waktu masih muda, individu mempunyai sikap negatif terhadap obat-obatan, tetapi ia menjadi biasa setelah menderita sakit sehingga secara rutin harus mengkonsumsi obat – obatan tertentu. Read the rest of this entry

Teori Sikap

Ada beberapa teori yang membantu kita untuk memahami bagaimana sikap dibentuk dan bagaimana sikap dapat berubah. Teori – teori tersebut tidak selalu bertentangan satu sama lain. Adapun teori – teori yang dimaksud yaitu :

1. Teori belajar

Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Carl Hovland dan rekannya. Asumsi di balik teori ini adalah bahwa proses pembentukan sikap sama seperti pembentukan kebiasaan. Orang mempelajari informasi dan fakta tentang objek sikap yang berbeda – beda dan mereka juga mempelajari perasaan dan nilai yang diasosiasikan dengan fakta itu (Taylor, 2009).

Teori ini banyak menggunakan prosedur classical conditioning (Arthur Staats). Menurut Staats, banyak sikap yang terbentuk secara classical conditioning. Keutamaan classical conditioning sebagai suatu mekanisme bagi pembentukan sikap terletak pada kenyataan bahwa melalui classical conditioning, individu akan dapat mempunyai reaksi – reakasi sikap yang kuat terhadap objek – objek sosial bahakn tanpa pengalaman langsung. Misalnya, seorang anak sejak kecil sudah diajari bahwa musik klasik adalah musik yang membosankan. Maka anak tersebut akan mengimplementasikan informasi yang diterimanya dan membentuk sebuah sikap secara tidak langsung terhadap musik klasik tersebut. Anak tersebut akan langsung menggambarkan musik klasik sebagai musik yang membosankan. Pemikiran ini terus berkembang sampai nanti anak tersebut dewasa. Musik klasik akan tetap menjad musik yang membosankan untuknya.

Proses belajar dasar juga berlaku untuk proses pembentukan sikap, yang dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu :

a. Association (asosiasi), yaitu penghubung dalam memori antara stimulus yang saling berkaitan. Misalnya, guru sejarah menceritakan tentang peristwa G30S / PKI dengan nada marah dan penuh permusuhan, kita akan membuat asosiasi antara perasaan negatif dengan kata “PKI”.

b. Reinforcement (penguatan), yaitu proses yang dilakukan seseorang dalam belajar menunjukkan respons tertentu setelah ia diberi imbalan saat ia menunjukkan respons itu. Misalnya, saat kita mendapat nilai A pada mata kuliah Psikologi Sosial dan gembira karenanya, maka tindakan untuk mengikuti kelas psikologi sosial akan diperkuat, dan kita kemungkinan besar akan semakin tertarik untuk mendalami ilmu psikologi di masa mendatang, begitu pula sebaliknya.

c. Imitation (peniruan), yaitu bentuk belajar yang melibatkan pemikiran, perasaaan, atau perilaku dengan cara meniru pemikiran, perasaan, dan perilaku orang lain. Misalnya, anak – anak cenderung meniru sikap dan perilaku orang tuanya sewaktu kecil.

d. Message learning (belajar pesan), yaitu ide bahwa perubahan sikap tergantung pada proses belajar indvidu terhadap isi dari komunikasi.

e. Transfer of effect (transfer efek), yaitu mengubah sikap dengan memindahkan efek yang disosialisasikan dengan objek lain. Misalnya, mobil yang dipasangkan dengan wanita cantik akan membuat kita percaya bahwa mobil itu bagus dan memiliki mobil itu akan membuat kita mendapatkan penghargaan sosial. Dengan kata lain, orang mengtransfer perasaan atau afek yang mereka rasakan tentang satu objek ke objek lain.

 

2. Teori konsistensi kognitif

Teori ini berfokus pada keberadaaan sikap sesuai satu sama lainnya atau dengan sikap – sikap yang lain. Teori ini memandang manusia sebagai pemroses informasi yang aktif yang mencoba memahami seluruhnya atas apa yang mereka rasakan, pikirkan, dan berbuat dimana mereka secara aktif menyusun dan menafsirkan dunia tersebut untuk membuat kecocokan terhadap inkonsistensi yang bisa terjadi di antara dan dalam sikap – sikap.

Ada beberapa teori spesifik yang menekankan arti penting dalam konsistensi kognitif, antara lain:

a. Teori keseimbangan

Pada dasarnya teori ini berkaitan dengan bagaimana sikap kita berkenaan dengan orang – orang dan objek sikap yang konsisten. Teori ini melibatkan tiga elemen, yaitu : perceiver, orang lain, dan objek lain. Ketiga elemen tersebut membentuk suatu kesatuan, dimana elemen – elemen tersebut bisa membentuk suatu kombinasi yang menghasilkan hubungan seimbang / tidak seimbang. Kondisi yang tidak seimbang akan menimbulkan ketegangan (tension) dan timbullah tekanan yang mendorong untuk megubah organisasi kognitif sedemikian rupa sehingga tercipta keadaan seimbang (Dayaksini, 2003).

b. Teori disonansi kognitif

Disonansi didefinisikan sebagai keadaan motivasional aversif yang terjadi saat beberapa perilaku yang kita lakukan tidak konsisten dengan sikap kita. Disonansi selalu muncul terutama jika sikap dan perilaku yang tak selaras itu adalah penting bagi diri kita (Aranson, 1968 ; Stone & Cooper, 2001).

Fokus dari teori ini adalah individu, yang menyelaraskan elemen-elemen kognisi, pemikiran atau struktur. Terdapat dua elemen kognitif; dimana disonansi terjadi jika kedua elemen tidak cocok sehingga menggangu logika dan pengharapan. Misalnya, seorang perokok yang mengerti bahwa merokok dapat mengakibatkan penyakit kanker. Kognisi : “saya seorang perokok” tidak sesuai dengan kognisi “merokok dapat mengakibtakan penyakit kanker”, karena itu membuat keadaan disonansi.

Disonansi menghasilkan suatu ketegangan psikologis yang mendorong seseorang mengurangi disonansi tersebut. Pengurangan disonansi dapat melalui tiga cara, yaitu :

1) Mengubah elemen tingkah laku

Misalnya, seorang perokok yang mengetahui bahaya merokok yang dapat mengakibatkan penyakit kanker. Maka untuk menghilangkan disonansi, perokok itu berusaha tidak merokok lagi.

2) Mengubah elemen kognitif lingkungan

Misalnya, perokok itu meyakinkan teman – temannya / saudara – saudaranya bahwa merokok itu tidak akan mengakibatkan penyakit kanker.

3) Menambah elemen kognitif baru

Misalnya, mencari pendapat teman lain yang mendukung pendapat bahwa merokok tidak akan mengakibatkan penyakit kanker.

 

3. Teori persepsi diri

Teori ini berfokus pada individu yang mengetahui akan sikapnya dengan mengambil kesimpulan dari perilakunya sendiri dan persepsinya tentang situasi. Implikasinya adalah perubahan perilaku yang dilakukan seseorang menimbulkan kesimpulan pada orang tersebut bahwa sikapnya telah berubah.

Misalnya, seseorang yang awalnya tidak bisa memasak tapi ia memasak setiap ada kesempatan dan ia baru sadar kalau dirinya suka menyukai / hobi memasak.

 

4. Teori presentasi diri

Menurut teori ini, orang memiliki sutau kebutuhan untuk mengabsahkan aspek – aspek penting dari konsep dirinya, terutama jika konsep dirinya terancam. Teori ini secara aktif mengelola self – image atau kesan yang mereka berikan kepada orang lain.

 

5. Teori ekspektasi nilai

Teori ini mengasumsikan bahwa orang mengadopsi posisi (pandangan) berdasarkan penilaian pro dan kontra (untung – rugi), yakni berdasarkan nilai yang mereka berikan pada kemungkinan efeknya. Menurut teori ini, dalam pengadopsian sikap, orang cenderung memaksimalkan penggunaan subjektif atas berbagai hasil yang diperkirakan, yang merupakan produk dari nilai hasil tertentu dan pengharapan (ekspetandi) bahwa posisi ini akan menimbulkan hasil yang bagus itu. Misalnya, Anda akan menentukan apakah Anda akan mendatangi pesta teman Anda nanti malam atau belajar di rumah. Anda mungkin memikirkan berbagai macam akibat atau kegiatan jika pergi ke pesta, nilai tentang akibat itu, dan pengharapan tentang akibat atau hasil itu.

Ringkasnya, teori ekspetansi nilai melihat pada keseimbangan insentif dan memprediksikan bahwa dalam situasi di mana ada tujuan yang saling bertentangan, orang akan memilih posisi yang memaksimalkan keuntungan buat mereka. Teori ini mengasumsikan bahwa orang adalah pembuat keputusan yang penuh perhitungan, aktif, dan rasional (Sears, 2009).

Komponen Sikap

Para pakar psikologi sosial selalu mengkaji sikapsebagai komponen dari sistem yang terdiri atas tiga bagian atau disebut juga skema triadik yaitu; keyakinan mencerminkan komponen kognitif, sikap merupakan komponen afektif, dan tindakan mencerminkan komponen perilaku (Atkinson, R, L., Atkinson, R, C., & Hilgard, E, R., 1983:371).

Dewasa ini, definisi yang paling umum menggabungkan unsur – unsur dari kedua pendekatan, yaitu : sikap terhadap objek gagasan atau orang tertentu yang merupakan orientasi yang bersifat menetap dengan komponen – komponen yang merupakan hasil dari suatu interelasi terhadap sikap, dimana komponen – komponen tersebut menurut Allaport (dalam Mar’at, 1981) ada tiga, yaitu :

1. Komponen kognitif, yaitu komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan atau informasi yang dimiliki seeorang tentang objek sikapnya. Dari pengetahuan tesebut kemudian akan terbentuk suatu keyakinan tertentu tentang objek dari sikap tersebut.

2. Komponen afektif, yaitu komponen yang terdiri dari seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap suatu objek, terutama penilaian, yang bersifat evaluatif dan berhubungan erat dengan nilai – nilai kebudayaan atau sistem nilai yang dimilikinya.

3. Komponen konatif, yaitu merupakan kecenderungan seseorang untuk bertingkah laku yang berhubungan dengan objek sikapnya.

 

Interaksi antara komponen sikap:

–          Seharusnya membentuk pola sikap yang seragam ketika dihadapkan pada objek sikap.

–          Apabila salah satu komponen sikap tidak konsisten satu sama lain, maka akan terjadi ketidakselarasan

Akibat : terjadi perubahan sikap

Fungsi Sikap

Dikatakan bahwa bagi individu, sikap mempunyai 4 fungsi penting (Katz, 1960), yaitu :

1. Utilitarian function : sikap berfungsi sebagai penyesuaian sosial dan membantu individu merasa menjadi bagian dari masyarakat.

Contoh : seseorang dapat memperbaiki ekspresi dari sikapnya terhadap suatu objek tertentu untuk mendapatkan persetujuan atau dukungan.

2. Knowledge function : sikap membantu individu untuk memahami dunia, yang membawa keteraturan terhadap bermacam-macam informasi yang perlu diasimilasikan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap individu memiliki motif untuk ingin tahu, ingin mengerti, dan ingin banyak mendapat pengalaman dan pengetahuan.

3. Value-expressive function : sikap mengkomunikasikan nilai dan identitas yang dimiliki seseorang terhadap orang lain.

4. Ego defensive function : sikap melindungi diri, menutupi kesalahan, agresi, dsb dalam rangka mempertahankan diri. Sikap ini mencerminkan kepribadian individu yang bersangkutan dan masalah – masalah yang belum mendapatkan penyelesaian secara tuntas sehingga individu berusaha mempertahankan dirinya secara tidak wajar karena ia merasa takut kehilangan statusnya (Brigham, 1991).

Sikap di dalam Psikologi Sosial

“Thought is the child of action” ~ Benjamin Disraeli, Vivian Gray, 1926

Pikiran adalah anak dari tindakan. Sebelum bertindak, manusia pasti terlebih dahulu memikirkan apa yang akan dilakukannya. Lalu, apa hubungan dari pemikiran (sikap) dan tindakan (perilaku)? Para filsuf, pemuka agama, dan peneliti sudah lama mengspekulasi tentang hubungan antara sikap dan perilaku (apa yang dipikir dan diperbuat) sehingga dapat diasumsikan bahwa : Keyakinan atau kepercayaan kita menentukan perilaku kita secara umum, jadi apabila kita berharap untuk mengubah perilaku kita, kita harus terlebih dahulu mengubah hati dan pikiran kita.

Pada awalnya, para psikolog sosial menyetujui bahwa : Untuk mengetahui sikap seseorang adalah dengan memprediksi apa yang akan mereka lakukan (tindakan). Seperti yang didemonstrasikan oleh pembunuh genosida dan pelaku bom bunuh diri, sikap yang ekstrim dapat menghasilkan perilaku yang ekstrim pula. Akan tetapi, pada tahun 1964 Leon Festinger, seorang psikolog sosial asal New York, menyimpulkan : bukti – bukti menunjukkan bahwa mengubah sikap seseorang hampir tidak mempengaruhi perilaku mereka. Beliau percaya bahwa hubungan antara sikap dan perilaku berjalan dengan cara yang berbeda.

Ketika para psikolog sosial berbicara tentang sikap seseorang, mereka mengacu pada kepercayaan dan perasaan yang berkaitan dengan seorang individu atau sebuah peristiwa dan hasil dari kecenderungan perilaku yang dihasilkan. Menguntungkan atau tidak menguntungkannya suatu reaksi terhadap sesuatu sering berakar pada keyakinan dan dimunculkan dalam perasaan dan kecenderungan untuk bertindak disebut sebagai sebuah sikap (Eagly & Chaiken, 2005). Sikap mengkondisikan mental yang kompleks yang melibatkan keyakinan dan perasaan, serta disposisi untuk bertindak dengan cara tertentu. Dengan demikian, seseorang bisa saja mempunyai pandangan negatif terhadap kopi, pandangan netral terhadap bangsa Perancis, ataupun pandangan positif terhadap sebuah lukisan. Ketika kita harus merespon sesuatu dengan cepat, cara kita merasakan hal itu dapat menentukan bagaimana kita bereaksi.

Pembelajaran tentang sikap sangat dekat dengan “jantung” dari psikologi sosial dan merupakan salah satu konsentrasi yang utama. Beberapa abad belakangan ini, para peneiliti meragukan berapa banyak sikap kita yang kemudian membawa pengaruh bagi perilaku kita. Kita dapat mengingat tiga dimensi ini sebagai sikap ABC. Affect (feelings) atau perasaan, Behaviour tendency, dan Cognition (thoughts) atau pemikiran. Ketiga dimensi ini saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.

Definisi Sikap

Masalah sikap merupakan masalah yang urgen di bidang psikologi sosial. Mengapa?

Beberapa ahli mengemukakan pengertian tentang sikap, diantaranya (dalam Azwar, 1988) :

1. Thurstone, yang berpandangan bahwa sikap merupakan suatu tingkatan afek, baik itu bersifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan objek – objek psikologis.

2. Sheriff & Sheriff (1956), berpandangan bahwa sikap menentukan keajengan dan kekhasan perilaku seseorang dalam hubungannya dengan stimulus manusia atau kejadian – kejadian tertentu. Sikap merupakan suatu keadaan yang memungkinkan timbulnya suatu perbuatan atau tingkah laku.

Sehingga dapat  disimpulkan bahwa definisi sikap :

1. Berorientasi kepada respon

  •  Sikap adalah suatu bentuk dari perasaan, yaitu perasaan mendukung atau memihak maupun perasaan tidak mendukung pada suatu objek.

2. Berorientasi kepada kesiapan respon

  •  Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu, apabila dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon.
  •  Suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif untuk menyesuaikan diri dari situasi sosial yang telah terkondisikan.

3. Berorientasi kepada skema triadik

  •  Sikap merupakan konstelasi komponen-komponen kognitif, afektif, dan konatif yang saling berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku terhadap suatu objek di lingkungan sekitarnya.

 

Secara sederhana sikap didefinisikan –> Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek, orang atau peristiwa. Hal ini mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu .  Ekspresi sederhana dari bagaimana kita suka atau tidak suka terhadap beberapa hal.

Dari pengertian – pengertian yang dikemukakan oleh beberapa ahli tersebut dapat ditemukan unsur yang hampir sama pada sikap, yaitu sikap merupakan kecenderungan untuk bertindak dan bereaksi terhadap suatu stimulus. Oleh karena itu, manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat, akan tetapi harus ditafsirkan terlebih dahulu sebagai tingkah laku yang masih tertutup (Dayaksini, 2003).

Filosofi Sikap

Semakin lama saya hidup, semakin saya sadar
Akan pengaruh sikap dalam kehidupan kita

Sikap lebih penting daripada ilmu,
daripada uang, daripada kesempatan,
daripada kegagalan, daripada keberhasilan,
daripada apapun yang mungkin dikatakan
atau dilakukan seseorang.

Sikap lebih penting
daripada penampilan, bakat atau kemahiran.
Hal yang paling menakjubkan adalah
Kita memiliki pilihan untuk menghasilkan
sikap yang kita miliki pada hari ini.

Kita tidak dapat mengubah masa lalu
Kita tidak dapat mengubah tingkah laku orang lain
Kita tidak dapat mengubah apa yang pasti terjadi

Satu hal yang dapat kita ubah
adalah satu hal yang kita dapat mengawalnya,
dan itu adalah sikap kita.

Saya semakin yakin bahwa hidup adalah
10 % dari apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita,
dan 90 % adalah bagaimana sikap kita menghadapinya.

MAKA: Seluruh pilihan terletak di tangan Anda, tidak ada JIKA atau TETAPI. Andalah pengemudinya. Andalah yang menentukan JALAN HIDUP ANDA…!

– Alpha –