Category Archives: Random

So, gue harus bilang WOW gitu?

Zaman semakin berubah. Entah semakin modern atau semakin alay. Atau alay yang menjadi modern 😐

Sampai-sampai mau bilang WOW aja mesti nanya dulu.

“Gue baru beli HP baru nih.”

“So gue harus bilang WOW gitu?!”

Err..

Jadi sebelum ada orang yang nanya gitu, duluan aja bilang “WOW”!

“Gue punya pacar baru loh. Iya, elo mesti bilang WOW. Mesti, harus! Udah ga perlu pake nanya lagi. Sekian dan terima amplop.”

What they say about Religion

 

Source : truth-saves.com

Oppa Gangnam Style!

Oppa Gangnam Style

Oppa Gangnam Style

Akhir-akhir ini nama  Gangnam Style menjadi hal yang begitu dibicarakan orang. Tak bisa dipungkiri memang lagu milik PSY ini begitu digilai selain karena ciri khas dance yang unik, tapi juga karena dance ‘tarian kuda’ yang begitu atraktif.

Tidak hanya terkenal di kalangan penggemar musik K-Pop, Gangnam Style bahkan sudah mencapai popularitas global dan menembus musik Amerika. Lebih menarik lagi, banyak jajaran bintang Hollywood menjadi penggemar Gangnam Style.

Gangnam Style dinobatkan jadi video yang paling banyak disukai sepanjang sejarah YouTube. Guinness World Record mencatatnya secara resmi 20 September lalu.

Berbagai acara di televisi pun sering menggunakan tarian ini sebagai bagian dari konten mereka. Nih teman-teman yang udah ber-Gangnam Style, rasanya gimana sih? :)))

Ngapain sih kuliah?

Kehidupan ini seperti sudah ada peraturannya. Seiring perkembangannya, manusiadiajarkan cara berjalan, berbicara, sampai menulis. Dan wajib hukumnya bagi anak yang berusia minimal 4 tahun untuk masuk sekolah. Sampai pada waktu dimana anak itu melanjutkan pendidikannya di bangku SD, SMP, hingga SMA. Dan setelah lulus dari bangku sekolah, banyak juga dari kita yang diwajibkan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Tapi sayangnya banyak dari kita yang sekedar ikut-ikutan aja, tanpa tahu tujuan mereka sebenarnya untuk masuk ke suatu perguruan tinggi.

Dari survei kecil-kecilan yang saya lakukan beberapa waktu lalu, saya memperoleh jawaban yang “lucu-lucu”. Ngapain sih kuliah? And here are what they said :

  • Ga lengkap rasanya sekolah kalau gak kuliah. Jadi ya jalanin aja selagi mampu.
  • Ya supaya dapat gelar lah. Zaman sekarang susah cari kerja kalu ga ada embel-embel gelar pendidikan di belakang nama.
  • Sebenarnya gue gak kepengen kuliah. Cuma mau senengin hati orang tua aja sih. Jadi ya kuliah aja deh, ga ada ruginya juga.
  • Kuliah di universitas ini dan memilih jurusan ini karena peluang pekerjaannya lebih terbuka lebar.
  • Saya sendiri juga ga tau ngapain kuliah. Ya udah kayak tradisi aja sehabis lulus SMA, kuliah, wisuda, kerja.

Lucu memang, tapi mungkin kita termasuk salah satu orang yang punya alasan yang sama. Saya sendiri juga masih kuliah, dan sampai sekarang sebenarnya juga masih mencari dan memantapkan sebenarnya apa sih tujuan saya kuliah? Apakah saya termasuk salah satu dari poin-poin yang saya sebutkan di atas? Ya mudah-mudahan enggak :)

Kenapa ya kok gak ada orang yang tujuan kuliahnya adalah untuk mencari teman, menambah relasi, dan bisa bersosialisasi dengan lebih banyak orang lagi di kampus? Kuliah itu sebenarnya memberikan kita peluang yang sangat besar untuk bisa mengenal orang lain dengan berbagai macam latar belakang mereka yang berbeda-beda. Tentunya bukan semata-mata itu. Kalau memang udah niat mau kuliah ya harus diselesaikan, jangan setengah-setengah. Kalau emang ga punya tujuan dan keinginan untuk kuliah, ngapain dilanjutkan? Wasting time.. :)

Ospek : Penyambutan atau Pembodohan?

PMB (Penyambutan Mahasiswa Baru) atau yang lebih dikenal dengan “ospek” memang sudah menjadi tradisi yang turun temurun di lingkungan sekolah / kampus, kebanyakan sih di lingkungan kampus.

Sebelum masuk kuliah, mahasiswa baru biasanya akan disuruh botak (untuk laki-laki) dan rambutnya dikepang dan dikuncir ga karuan kayak orang gila (buat yang perempuan). Terus, ada beberapa fakultas yang mengharuskan mahasiswa barunya untuk membawa barang-barang yang menurut saya, tidak masuk otak. Apa hubungannya PMB dengan membawa petai dan dijadikan dasi? Apa juga hubungannya PMB dengan membawa karung beras sebagai tas?

Masih biasa. Ada beberapa ospek yang “gila” saya pikir. Gak etis rasanya kalau mahasiswa baru ditendang, dipukul, disiram pakai air sampah, dihukum habis-habisan, diancam, dan diteror bahkan sampai masuk kuliah, itu namanya pendidikan atau pembodohan?

Jujur saya masih bingun dengan beberapa kampus atau fakultas yang masih memegang tradisi ini. Kalau mau nyambut ya yang wajar-wajar saja. Kalau dibiarkan terus menerus ya nggak bakal selesai-selesai, apalagi urusan ospek semuanya diserahkan ke pihak senior, yang akan menjadi “lingkaran setan”. Mau dihentikan gak bisa, junior mau balas juga gak bisa. Alhasil junior yang dendam ke seniornya membalaskan dendamnya itu tahun depan ke juniornya alias mahasiswa baru. Ya jadi udah kayak lingkaran setan yang ga tau gimana akhirinya.

Solusinya? Ya harus ada pihak yang berani berhentikan tradisi ini. Tapi pihak yang mana? Semuanya kan mau cari aman saja. Apalagi senior yang ditanya, “Kenapa masih dilakukan hal-hal kayak gini?” Ya jawaban mereka pasti, “Apa boleh buat, sudah tradisi. Gak dilakukan nanti bermasalah senior atas, ya udah tradisi. Mau tidak mau tetap dilakukan, sekalian ajang pembalasan dendam juga.”

Dari awal sudah salah, sudah berakar, beranak cucu sampai sekarang, mau berhentiin? Ya susah..

Hadapi atau lawan saja sih menurut saya.

Jadi kembali lagi, ospek itu sebenarnya.. Penyambutan atau Pembodohan?

Masa Lalu : Sejarah atau Kenangan?

Berapa banyak dari kita yang senang tinggal di masa lalu? Atau berapa banyak dari kita yang memang sengaja tidak mau menghapus masa lalu dari memori kita?

Ternyata, masa lalu bisa dikategorikan menjadi 2, yakni masa lau yang disimpan sebagai sejarah dan masa lalu yang disimpan sebagai kenangan. Masa lalu sebagai sejarah berarti kita sudah tidak memiliki emosi apapun terhadap kejadian yang kita alami di masa lalu itu. Sedangkan masa lalu sebagai kenangan; pastilah kejadian yang pernah kita alami di masa lalu itu adalah satu kejadian yang tidak mungkin dilupakan, yang apabila diingat aan menimbulkan satu rasa, entah rasa apa, yang jelas masa lalu itu masih mempunyai emosi yang kuat.

Celakanya adalah kita sering menempatkan masa lalu di tempat yang salah; ia yang seharusnya menjadi sejarah, malah menjadi kenangan. Ia yang seharusnya tidak memiliki emosi, malah menimbulkan emosi saat kita mengingatnya. Aneh? Ya, awalnya saya juga berpikir demikian sampai saya tahu ternyata masih ada bagian dari masa lalu saya yang masih mempunyai emosi yang kuat saat saya mengingatnya dan itu berdampak buruk untuk diri saya yang sekarang.

Terkadang, ada satu hal / kejadian di masa lalu yang memang seharusnya dilupakan (baca : dijadikan sejarah) di dalam memori kita. Kebanyakan kejadian itu adalah kejadian yang tidak mengenakkan, misalnya : kehilangan seseorang, pernah disakiti, dll. Kalau kita masih mengingat-ingat kejadian itu dan di saat ini kita masih punya perasaan dendam, sakit, dll, artinya kita masih menyimpan masa lalu sebagai kenangan. Kenagan yang pahit, mungkin? Padahal yang namanya kenangan itu seharusnya yang manis dan membahagiakan, misalnya : rasa senang saat mendapat juara, saat berhasil mencapai sesuatu, dll.

Hendaknya kita bisa terlepas dari masa lalu yang masih membawa satu emosi yang pahit untuk diri kita yang sekarang. Atau dengan kata lain, kita harus bisa move on. Bisa move on bukan hanya bisa meneruskan hidup kita lalu melupakan masa lalu. Bisa move on juga artinya kita bisa memgang masa lalu itu DAN apabila masa lalu itu diungkit kembali, tidak akan menimbulkan emosi apapun di dalam diri kita (ia sudah menjadi sejarah, bukan lagi kenangan.)

Semoga bermanfaat! 🙂

Kerukunan

Kerukunan merupakan kondisi dimana semua golongan agama bisa hidup bersama secara damai tanpa mengurangi hak ataupun kebebasan masing – masing untuk menganut dan melaksanakan kewajiban agamanya. Kerukunan adalah istilah yang dipenuhi oleh muatan makana “baik” dan “damai”. Initnya, hidup bersama dalam masyarakat dengan “kesatuan hati” dan “bersepakat” untuk tidak menciptakan perselisihan dan pertengkaran. Bila makna tersebut dijadikan pegangan, maka “kerukunan” adalah sesuatu yang ideal yang didambakan oleh masyarakat.

Namun, apakah perselisihan dan pertengkaran yang terjadi saat ini adalah didikan nenek moyang kita? Atua perselisihan dan pertengkaran memang sudah sehakekat dengan kehidupan manusia sehingga dambaan terhadap “kerukunan” itu ada karena “ketidakrukunan” itupun sudah menjadi kodrat dalam masyarakat manusia?

Pertanyaan seperti tersebut di atas bukan menginginkan jawaban akan tetapi hanya untuk mengingatkan bahwa manusia itu senantiasa bergelut dengan tarikan yang berbeda arah, antara harapan dan kenyataan, antara cita – cita dan yang tercipta.

Dikutip dari Diktat Perkuliahan Agama Buddha UKM Buddhis USU