Blog Archives

“Manusia”

Apakah manusia itu? Siapakah manusia ini? Apakah makna hidup manusia?

Pertanyaan ini selalu merupakan pertanyaan yang muncul sepanjang sejarah pemikiran manusia dan dalam setiap kebudayaan dalam bentuk yang berbeda-beda. Pertanyaan ini dalam abad ini merupaakn pertanyaan yang aktuan dan mendesak.

Heidegger pernah mengatakan : “Tak pernah ada zaman kita yang memiliki begitu banyak dan beraneka pengertian mengenai manusia. Tetapi benar pula bahwa tak ada zaman yang paling kurang mengetahui tentang manusia daripada zaman kita.”

Pertanyaan mengenai manusia dapat muncul pula dari pengalaman negatif dan pengalaman kekosongan, seperti yang dikatakan Agustinus pada saat ia merasa sedih karena kehilangan teman. “Aku menjadi besar bagi diriku.” (Confessiones, IV, cap.4 : facts eram ipse mhi magna quaestio) dan seperti yang digambarkan oleh Albert Camus, manusia hidup dengan perasaan keterasingan (alienasi); dalam masyarakat industrial ia hidup dan diperlakukan seperti nomor-nomor, padahal manusia itu bukan seperti hewan, tetapi sebagai pribadi yang dapat berkata “Aku”, “Anda”, dan “Kita”. Hidup manusia tidak berkembang secara buta menurut irama alam atau naluri. Ia harus hidup dan harus berbuat sesuatu.

Manusia merupakan teka-teki terbesar bagi manusia. Ia harus mengerti dirinya sendiri agar dapat hidup dan agar ia dikenal oleh orang lain. Pada saat yang sama ia harus tetap bersembunyi bagi dirinya agar ia dapat terus hidup dan bebas. Karena apabila ia pada akhirnya mengetahui dirinya sepenuhnya, ia akan berakhir, karena segala sesuatu akan menjadi tetap. Seperti kata Moltmann : “The solution of the puzzle what man is, would then at the same time be the final release from being human.” (J.Moltmann, Man. Christian Anthropology in the Conflicts of the Present, SPCK, London, 1974, hlm.2)

Akhirnya, pertanyaan mengenai manusia lahir dari kebutuhan manusia akan makna total dari dirinya. Read the rest of this entry

Advertisements