Blog Archives

Ospek : Penyambutan atau Pembodohan?

PMB (Penyambutan Mahasiswa Baru) atau yang lebih dikenal dengan “ospek” memang sudah menjadi tradisi yang turun temurun di lingkungan sekolah / kampus, kebanyakan sih di lingkungan kampus.

Sebelum masuk kuliah, mahasiswa baru biasanya akan disuruh botak (untuk laki-laki) dan rambutnya dikepang dan dikuncir ga karuan kayak orang gila (buat yang perempuan). Terus, ada beberapa fakultas yang mengharuskan mahasiswa barunya untuk membawa barang-barang yang menurut saya, tidak masuk otak. Apa hubungannya PMB dengan membawa petai dan dijadikan dasi? Apa juga hubungannya PMB dengan membawa karung beras sebagai tas?

Masih biasa. Ada beberapa ospek yang “gila” saya pikir. Gak etis rasanya kalau mahasiswa baru ditendang, dipukul, disiram pakai air sampah, dihukum habis-habisan, diancam, dan diteror bahkan sampai masuk kuliah, itu namanya pendidikan atau pembodohan?

Jujur saya masih bingun dengan beberapa kampus atau fakultas yang masih memegang tradisi ini. Kalau mau nyambut ya yang wajar-wajar saja. Kalau dibiarkan terus menerus ya nggak bakal selesai-selesai, apalagi urusan ospek semuanya diserahkan ke pihak senior, yang akan menjadi “lingkaran setan”. Mau dihentikan gak bisa, junior mau balas juga gak bisa. Alhasil junior yang dendam ke seniornya membalaskan dendamnya itu tahun depan ke juniornya alias mahasiswa baru. Ya jadi udah kayak lingkaran setan yang ga tau gimana akhirinya.

Solusinya? Ya harus ada pihak yang berani berhentikan tradisi ini. Tapi pihak yang mana? Semuanya kan mau cari aman saja. Apalagi senior yang ditanya, “Kenapa masih dilakukan hal-hal kayak gini?” Ya jawaban mereka pasti, “Apa boleh buat, sudah tradisi. Gak dilakukan nanti bermasalah senior atas, ya udah tradisi. Mau tidak mau tetap dilakukan, sekalian ajang pembalasan dendam juga.”

Dari awal sudah salah, sudah berakar, beranak cucu sampai sekarang, mau berhentiin? Ya susah..

Hadapi atau lawan saja sih menurut saya.

Jadi kembali lagi, ospek itu sebenarnya.. Penyambutan atau Pembodohan?

Advertisements

#SayNoToBullying

Semalam, Twitter dihebohkan oleh TL @shintwitt yang membahas tentang kasus bullying yang terjadi pada keponakannya di salah satu SMA di Jakarta. Kasus yang akhirnya mendapat perhatian dari banyak user di Twitter ini akhirnya saya rangkum di dalam chirpstory saya.

“…Bagian rusuk lebam-lebam, ada sundutan rokok di leher, diculik oleh seniornya dari jam 2 – 10 malam. Dan pihak sekolah malah tidak mau bertanggung jawab atas hal ini..” ujar @shintwitt di dalam tweetsnya.

Saya percaya kasus ini bukan hanya terjadi pada Ary. Diluar sana, pasti ada anak-anak lainnya yang menjadi korban bullying yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Terlebih lagi kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak SMA atau kuliah pada saat PMB / MOS/ ospek.

Saya pribadi sebenarnya tidak setuju dengan MOS / PMB / ospek yang tujuannya bukan kepada pengenalan siswa / mahasiswa baru terhadap senior dan sekolah / kampus tetapi malah ke arah kekerasan (kriminal). Beberapa fakta menunjukkan bahwa ospek yang katanya sebagai “penyambutan” malah dijadikan kesempatan buat “nge-bully” junior-junior dengan tindakan yang tidak berprikemanusiaan menurut saya.

“Kalau gak ada ospek jadinya gak seru dong.”

“Itu udah jadi tradisi turun menurun. Susah buat menghapusnya.”

Bukan berarti bahwa ospek itu harus dihapuskan loh. Kalau saya pribadi sih setuju aja kalau ada kegiatan penyambutan mahasiswa baru ASAL ospek nya masih pake hati dan masih berada di dalam batas wajar, ngga harus sampai kriminal, loh!

Bayangin aja mahasiswa baru yang di ospek trus ditendang kepalanya, disundut rokok, dipukuli sampai lebam. Is this what you call by “welcoming party” ? Kalau udah melibatkan kekerasan mah itu udah bukan penyambutan lagi. Penganiayaan, bro! dan itu seharusnya dilaporkan ke pihak yang berwajib. Tapi beberapa pihak malah menyatakan itu semua sebagai “something that they have to do and obey.”

Sepatutnya pemerintah, departemen pendidikan  dan juga masyarakat bekerja sama untuk mensosialisasikan hal ini. Dan sudah sepatutnya pihak pemerintah tegas dalam menindaklanjuti kasus seperti ini. Kalau kekerasan dipandang sebagai satu “syarat wajib” untuk mengecam pendidikan, mau jadi apalah generasi-generasi muda ini nantinya?

Mulai sekarang, mari sama-sama dukung gerakan #SayNoToBullying !

————————————————————————————–

Your beloved friend,

Fenny Wongso